Sebelum IPB Berdiri: Perkebunan di Darmaga pada Masa Kolonial

Sebelum IPB Berdiri: Perkebunan di Darmaga pada Masa Kolonial

Sebelum IPB Berdiri: Perkebunan di Darmaga pada Masa Kolonial

Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) di Darmaga tidak dapat dilepaskan dari sejarah perkebunan masa kolonial. Sebelum IPB dibangun pada awal dasawarsa 1960-an, area Darmaga semula merupakan perkebunan milik keluarga Belanda Van Motman. Perkebunan Darmaga milik keluarga Van Motman ini telah berdiri sejak abad 19. Namun, perkebunan tersebut kemudian dinasionalisasi oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1958 dan akhirnya dipercayakan kepada Fakultas Pertanian Universitas Indonesia di Bogor yang kemudian menjadi IPB. Seperti diterangkan akademisi IPB Sjamsoe’oed Sadjad (1991), “perkebunan karet yang luasnya sekitar 250 hektar beserta segala asetnya, termasuk landhuis (rumah kediaman tuan tanah), diambil alih Pemerintah RI yang kemudian memberikan kepercayaan kepada Fakultas Pertanian, Universitas Indonesia (sekarang IPB) untuk mengelolanya.”

Dramaga
Gambar 1. Landhuis di Darmaga pada masa kolonial, sekarang difungsikan sebagai Museum IPB (Sumber: Van Motman 2024: 259)

Seperti diceritakan Constant R. van Motman (2024: 54-57), yaitu salah seorang keturunan keluarga Van Motman, perkebunan Darmaga berawal dari riwayat kedatangan leluhur mereka yang bernama Gerrit Willem Casimir van Motman di tanah Jawa. Gerrit Willem Casimir (GWC) datang di Jawa pada tahun 1791 sebagai pedagang junior dari Perusahaan Hindia Timur Belanda (Verenigde Oostindische Compagnie, VOC). Karier GWC kemudian naik ketika Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels mulai menjabat sebagai kepala pemerintahan Hindia Belanda pada 1808. Sejak saat itu, GWC menjadi tangan kanan sang gubernur jenderal. Pada awalnya, ia ditunjuk sebagai komisaris sementara untuk urusan pribumi. Namun, tanggung jawab lebih besar diemban GWC sejak dirinya diberikan kepercayaan sebagai Prefek Jakarta dan Dataran Tinggi Priangan serta kemudian Komisaris Jalan dan Pos di Jawa. Karier ini akhirnya membawa perbaikan bagi keadaan finansial GWC. Dengan demikian, tidaklah mengerankan jika ia kemudian mampu untuk membeli tanah-tanah luas yang dikuasai pemerintah kolonial dan pada awal abad 19 boleh diperjual-belikan. Tanah di area Darmaga sendiri dibeli oleh GWC sekitar tahun 1813 (Van Motman 2024: 255).

Dalam administrasi negara kolonial, area Darmaga yang dimiliki GWC tergolong sebagai tanah partikelir atau particuliere landen (Mansjoer, Sundaningsih dkk 2017: 239-40; Mansvelt, Creutzberg 1975: 24). Tanah ini merupakan kepemilikan pribadi GWC sehingga perkebunan yang kemudian dirintis di atas area Darmaga merupakan perkebunan swasta nonpemerintah. Sementara itu, pemerintah kolonial juga memberikan keistimewaan berupa hak pertuanan (particulier landheerlijke rechten) bagi tuan tanah yang berkuasa. Dengan begitu, GWC kemudian dapat mengangkat atau memberhentikan kepala desa hingga memungut pajak di atas tanah Darmaga yang dikuasainya. Secara lebih detail, sejarawan Onghokham (1983: 36) menjelaskan kekuasaan tuan tanah partikelir ini sebagai berikut:

“Tuan-tuan tanah itu mempunyai kekuasaan yang hampir sama seperti bupati. Akan tetapi, bagaimana juga mereka tidak mengambil gaya dan titel atau gelar bupati. Tanah-tanah ini terutama dibeli untuk tujuan bisnis dan bila tuan tanah meninggal, tanah tersebut dibagi di antara ahli waris.”

Dramaga
Gambar 2. Peta sebaran tanah-tanah partikelir di Jawa bagian barat tahun 1884 (atas, berwarna abu gelap) dan peta yang menunjukkan kawasan Darmaga tahun 1901 (bawah) (Sumber: Leiden University Libraries)

N. V. Cultuur Maatschappij “Dermaga” merupakan nama dari perusahaan perkebunan yang berdiri di atas tanah partikelir Darmaga, sebagaimana tercatat dalam Ledenlijst van het Algemeen Landbouw Syndicaat en het Zuid- en West-Sumatra Syndicaat (1938). Ketika tuan tanah GWC meninggal pada tahun 1821, perusahaan perkebunan ini tidak gulung tikar. Alih-alih, perusahaan menjadi kian berkembang di bawah pengelolaan generasi penerus GWC. Adapun pengelola terakhir perkebunan Darmaga pada 1950-an adalah A. B. Paauwe. Ia merupakan suami dari keturunan GWC bernama Pauline Elize Laurence Marie van Motman dan memiliki seorang anak bernama Judie Paauwe. Riwayat para pengelola perkebunan Darmaga sejak era GWC hingga masa Paauwe ini telah dirinci Sjamsoe’oed Sadjad (1991) seperti berikut:

“Judie Paauwe [adalah] anak perempuan satu-satunya dari Pauline Elize Laurence Marie van Motman dan A. B. Paauwe. . . . Ayah Judie, Tuan A. B. Paauwe menjabat Direktur Perkebunan Darmaga yang terakhir sebelum diserahkan kepada Pemerintah RI, sedangkan ‘pewaris terakhir’ dari dinasti Motman adalah paman bungsu Judie yang bernama Pieter Reiner van Motman. . . . Dia [Pieter Reiner] adalah tuan tanah kelima, terhitung dari moyangnya yang bernama Gerrit Willem Casimir van Motman sebagai tuan tanah pertama. . . . Tuan tanah Darmaga ini [Gerrit Willem Casimir] meninggal di Darmaga pada tahun 1821. Anaknya yang pertama menjadi tuan tanah di Jasinga, sedangkan penerus tuan tanah di Darmaga adalah anak keduanya yang bernama Jacob Gerrit Theodoor van Motman (1816-1890). Sepeninggal tuan tanah kedua, penerusnya adalah anaknya yang ketiga yang bernama Pieter Reiner van Motman (1850-1911) sebagai tuan tanah ketiga. Namanya kebetulan sama dengan tuan tanah yang terakhir, tuan tanah kelima. Kakeknya Judie yang bernama Alphonse Constant Henri van Motman (1883-1935) menjadi tuan tanah keempat.”

Perusahaan perkebunan Darmaga milik keluarga Van Motman memproduksi beberapa komoditas budi daya. Kopi, karet, teh, gula, dan kopra adalah sejumlah komoditas yang diproduksi oleh perkebunan ini. Constant R. van Motman (2024: 259) menerangkan bahwa produksi budi daya perkebunan Darmaga tersebut dilakukan dengan sumber daya manusia yang berjumlah 21,397 jiwa per tahun 1929. Ia kemudian merinci perkembangan produksi komoditas budi daya perkebunan keluarga Van Motman ini seperti berikut:

“Dramaga telah menghasilkan berbagai produk sepanjang keberadaannya. Awalnya dimulai dengan kopi. Hingga sekitar tahun 1868, gula juga diproduksi. Ketika tanaman itu tidak lagi menguntungkan, mereka beralih ke produksi teh. Pabrik gula tetap ada, tetapi sejak saat itu digunakan untuk pembuatan teh. Pada saat itu, mereka memiliki 400 kuda penarik gerobak untuk mengangkut produk ke Batavia! Suatu ketika, teh yang memiliki reputasi sangat baik itu hancur karena wabah lalat hitam. Setelah itu, keluarga tersebut beralih ke produksi karet.” (Van Motman 2024: 259).

Kopi merupakan komoditas utama perkebunan Darmaga selama abad 19. Adapun kopi yang diproduksi adalah jenis Kopi Liberia (Van Motman 2024: 179-181). Kopi Liberia ini dapat tumbuh subur karena elevasi rendah dari dataran perkebunan Darmaga. Berkat hal tersebut, hasil produksi Kopi Liberia perkebunan Darmaga begitu mengesankan. Dalam testimoninya, H. J. Hofstede mengutarakan bahwa besarnya produksi kopi Darmaga diiringi dengan kesuksesan penjualan di pasar dagang. “Saya telah melihat perusahaan-perusahaan besar di Jawa Barat menghasilkan panen Kopi Liberia yang cukup besar; perusahaan milik Tuan P. van Mottman, di antara yang lainnya, membawa lebih dari 2,000 pikul [setara dengan 120,958 kg] Kopi Liberia ke pasar dagang tahun lalu [1892], yang berhasil dinegosiasikan dengan harga pasar sekitar ƒ 63,50 per pikul,” jelas Hofstede (Brooshooft 1893).

Memasuki abad 20, komoditas utama perkebunan Darmaga beralih menjadi karet. Produktivitas komoditas karet Darmaga menunjukkan tingkat kesuksesan yang tidak kalah dengan Kopi Liberia sebelumnya. Artikel Verhooging van de Opbrengst van Hevea-boomen yang dimuat majalah Nederlandsch-Indisch Rubbertijdschrift (1921) menguraikan bahwa “dari 400 satuan bau bibit pohon berumur sekitar lima tahun, diperoleh 9,000 kg karet kering di Dramaga pada tahun 1911, 63,000 kg pada tahun 1912, 131,860 kg pada tahun 1913, 157,647 kg pada tahun 1914, dan 194,911 kg pada tahun 1915.” Puncaknya, perkebunan Darmaga berhasil memeroleh hasil panen karet sebesar 246,752 kg pada tahun 1938 (Van Motman 2024: 259).

Di sisi lain, perkebunan Darmaga milik keluarga Van Motman ternyata mempunyai reputasi yang menonjol di antara perkebunan partikelir lainnya di Jawa. Jurnalis dan penulis buku berkebangsaan Jerman bernama Georg Schweitzer menyatakan bahwa perkebunan Darmaga adalah “perkebunan terbaik yang diakui secara umum di Jawa” (Van Motman 2024: 181). Reputasi baik ini tidak hanya dapat diukur dari kesuksesan produksi perkebunan, melainkan juga berdasarkan cara keluarga Van Motman merawat aset mereka. Constant R. van Motman (2024: 256) memberikan keterangan bahwa Darmaga memiliki kondisi jalan yang prima di seluruh area perkebunan. Sementara itu, rumah-rumah tinggal juga dijaga agar terus berada dalam kondisi yang baik.

Pada akhirnya, alih fungsi area Darmaga terjadi seiring dengan kemerdekaan Indonesia dari Belanda. Darmaga berubah dari yang semula merupakan perkebunan partikelir kolonial menjadi pusat pendidikan tinggi nasional. Perubahan ini terjadi dengan diterbitkannya Surat Keputusan Kementerian Pertanian Nomor 137/UM/1958 tanggal 18 September 1958 (Mansjoer, Sundaningsih dkk 2017: 240). Melalui surat tersebut, pemerintah menyatakan: “menyerahkan penyelenggaraan penggunaan atas perusahaan perkebunan N. V. Cultuur Mij. Darmaga di Bogor kepada Fakultas Pertanian dari Universitas Indonesia Kementerian Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan, dengan mengindahkan petunjuk-petunjuk dari Menteri Pertanian.” Pada kemudian hari, Darmaga akhirnya menjadi rumah utama dari IPB.

Referensi

Brooshooft, P. “Liberia-Koffie en Gouvernements-cultuur.” De Locomotief, 3 Januari 1893, eerste blad.

Ledenlijst van het Algemeen Landbouw Syndicaat en het Zuid- en West-Sumatra Syndicaat. 1938. Batavia: Ruygrok & Co.

Mansjoer, Sri Supraptini, Sundaningsih, Naresworo Nugroho, Oetomo Djajanegara, Sitanala Arsyad, Suryono Suryokusumo, Suwarno Sutarahardja, Bambang Pranggodo, Cahyono Tri Wibowo. 2017. Sejarah Perjalanan Institut Pertanian Bogor sebagai Lembaga Pendidikan Tinggi Pertanian, 1963-2017. Buku II: Pembangunan Gedung-gedung IPB. Bogor: IPB Press.

Mansvelt, W. M. F., P. Creutzberg, eds. 1975. Changing Economy in Indonesia: A Selection of Statistical Source Material from the Early 19th Century up to 1940. Volume 1: Indonesia’s Export Crops 1816-1940. The Hague: Martinus Nijhoff.

Onghokham. 1983. Rakyat dan Negara. Jakarta: Sinar Harapan dan LP3ES.

Sadjad, Sjamsoe’oed. “Kampus IPB di Darmaga, Suatu ‘Warisan.’” Kompas, 27 Juni 1991.

Van Motman, Constant R. 2024. De Familie Van Motman 1600-2023. Amstelveen: Uitgave Stichting Van Motman Familiearchief.

“Verhooging van de Opbrengst van Hevea-boomen.” Nederlandsch-Indisch Rubbertijdschrift, 15 Mei 1921.

Rahman C. Adiatma, Staf edukator Museum dan Galeri IPB Future