Beradaptasi menjadi Mahasiswa: Cerita dari Angkatan 13 IPB pada 1970-an

Beradaptasi menjadi Mahasiswa: Cerita dari Angkatan 13 IPB pada 1970-an

Beradaptasi menjadi Mahasiswa: Cerita dari Angkatan 13 IPB pada 1970-an

Menjadi seorang mahasiswa adalah pengalaman hidup yang sulit untuk dilupakan. Hal ini tak terkecuali bagi mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) angkatan 13 yang bernama “Astaga,” Ayo Santai Tapi Awas Gagal. Berkuliah di IPB sejak tahun 1976 hingga 1980, angkatan Astaga memiliki banyak cerita seputar lika-liku kehidupan mahasiswa kala itu yang terangkum di dalam tiga jilid Buku Kenangan Astagian. Cerita pengalaman sebagai mahasiswa ini menggambarkan bagaimana para Astagian, sapaan bagi anggota angkatan 13, beradaptasi dari pelajar sekolah menjadi murid di kampus pertanian terbesar Indonesia, IPB.

Mahasiswa IPB Angkatan 63 Astaga
Gambar 1. Potret beberapa mahasiswa IPB angkatan 13 “Astaga” di depan Kampus Baranangsiang sekitar tahun 1976 (Sumber: Noorjaya dkk eds. 2017: 48)

Salah satu hal yang begitu membedakan dunia sekolah dengan perkuliahan di IPB adalah latar belakang pendidikan top para pengajarnya. “Dosen-dosen IPB kebanyakan adalah lulusan Amerika,” sebut Tri Djoko Wahyono yang merupakan salah satu Astagian. Karena hal ini, maka tak mengherankan apabila materi dan istilah yang kala itu digunakan dosen IPB saat mengajar berada pada level lanjutan. Contoh yang menggambarkannya ada pada mata kuliah Landasan Matematika seperti diterangkan Astagian bernama Chairul Muluk: “Saya berkenalan dengan konsep gugus, berhadapan dengan istilah-istilah mangkuk, tudung, senarai, pertelakan, kata-kata dan istilah yang tidak saya kenal sebelumnya.” Selain itu, metode dosen IPB dalam ujian juga jauh berbeda dengan yang umumnya digunakan pada jenjang sekolah menengah. Seperti diterangkan Asep Saefuddin, Astagian lainnya, yang baru ketika berkuliah di IPB ia pertama kali menjalani ujian dengan metode open book:

“Awalnya saya aneh, ada ujian bisa buka buku. Tetapi kita bisa dapat angka telor alias nol, bila kita tidak mengerti materinya. Yang tidak faham, biasanya sewaktu ujian habis waktunya hanya untuk buka-buka buku atau catatan. Sambil basah kuyup kemeringet. Selain itu, ujian diadakan tiga kali. Akan tetapi bila ujian pertama dan kedua nilainya nyaris sempurna, ujian ketiga bebas dengan nilai A. Mahasiswa bisa punya waktu lebih untuk belajar materi lainnya. Hal-hal demikian bagi saya sangat baru dan menarik.”

Mahasiswa IPB Angkatan 63 Astaga
Gambar 2. Potret sebagian mahasiswa IPB angkatan 13 “Astaga” di dalam salah satu ruang kelas Kampus Baranangsiang sekitar tahun 1976 (Sumber: Noorjaya dkk eds. 2018: 26)

Kompetisi akademik yang ketat di antara mahasiswa menjadi cerita lain dari pengalaman para Astagian di IPB selama era 1970-an ini. “Di sini cobaan terbesar bergabung dengan anak pintar seantero Nusantara, jungkir balik, tanya sana-sini, agar bisa lulus uji,” jelas Rachman Saleh Said yang menggambarkan ketatnya kompetisi akademik tersebut. Bahkan, Tri Djoko Wahyono menceritakan bahwa terdapat beberapa mahasiswa yang ia juluki sebagai “Samurai” dengan tingkat kompetensi akademik di atas rata-rata. “‘Samurai,’ sebutan saya untuk mahasiswa yang nilai ujian Landasan Matematika-nya di atas nilai 100 waktu diberi tantangan oleh Pak Andi Hakim Nasoetion dengan cara nilai maksimal 150 (walaupun nilai 80 sudah dapat A),” sebut Tri. Ia mengaku bahwa dari 548 Astagian, terdapat 15 orang dengan gelar Samurai tersebut.

Mahasiswa IPB Angkatan 63 Astaga
Gambar 3. Potret sebagian mahasiswa IPB angkatan 13 “Astaga” di dalam salah satu ruang kelas Kampus Baranangsiang sekitar tahun 1976 (Sumber: Noorjaya dkk eds. 2018: 20)

Ketatnya kompetisi akademik tersebut juga ditambah dengan kepadatan agenda studi yang berlangsung tidak hanya Senin sampai Jumat, melainkan hingga Sabtu. Seperti diakui Astagian bernama Handewi Purwati: “Kuliah padat tiap hari Senin-Jumat pagi, siang, sore diselingi praktikum yang harus menyiapkan materi dan kadang dengan quiz singkat, lanjut dengan quiz (ujian) di hari Sabtu.” Handewi kemudian memaknai bahwa padatnya perkuliahan, praktikum, dan ujian yang para Astagian alami di IPB ini sebagai sebuah Kawah Candradimuka untuk menguji ketahanan fisik dan pikiran.

Mahasiswa IPB Angkatan 63 Astaga
Gambar 4. Potret beberapa mahasiswa IPB angkatan 13 “Astaga” sedang melakukan praktikum Kimia (Sumber: Noorjaya dkk eds. 2017: 159)

Semua tantangan akademik dan agenda studi di atas pada akhirnya menuntut mahasiswa untuk mampu bersiasat. Salah satu cara yang dilakukan para Astagian adalah dengan membentuk grup-grup belajar. Contohnya adalah Winiati P. Rahayu dan beberapa teman Astagian yang membentuk sebuah grup belajar berisikan tujuh orang. Dari ketujuh orang tersebut, akan dipilih satu tutor atau “guru” dengan nilai ujian paling bagus untuk mengajari teman-teman lain. Grup belajar seperti ini juga terjadi di dalam lingkungan tempat tinggal mahasiswa seperti asrama, kos, maupun kontrakan. Astagian bernama Irmia Nurandayani, misalnya, bercerita bahwa teman-teman kos membantunya dalam memberikan kiat-kiat menghadapi ujian. Dukungan dari lingkungan tempat tinggal ini juga tidak hanya berbentuk grup belajar, tetapi juga dalam membangun suasana belajar. Dalam ceritanya, Astagian bernama Rainy Maya menyampaikan bahwa teman-teman satu kontrakan kompak belajar satu sama lain dengan caranya masing-masing:

“Tinggal bersembilan dalam satu rumah kontrakan, dan saya sekamar berempat dengan Eny Gede, Eny Kecil, dan Mbak Uut. Masing-masing mempunyai kebiasaan dalam hal belajar, ada yang belajar harus pakai musik, ada yang menghapal di tempat sunyi, ada pula yang butuh bersuara kalau menghapal, tapi alhamdulillah tetap bisa kompak.”

Mahasiswa IPB Angkatan 63 Astaga
Gambar 5. Potret pengurus Asrama Putri IPB tahun 1979 yang diisi dari mahasiswa angkatan 13 “Astaga,” yaitu ketua Handewi Purwati dan sekretaris Gayatri Rawit Angreni (Sumber: Noorjaya dkk eds. 2017: 74)

Strategi juga harus dilakukan mahasiswa tidak hanya dalam hal akademik, melainkan juga berbagai aspek kehidupan pribadi terutama keuangan. Bagi kebanyakan Astagian, fase hidup menjadi mahasiswa adalah pengalaman pertama mereka keluar dari rumah sehingga menuntut kemandirian dalam mengelola pengeluaran. Seperti diutarakan Astagian bernama I Nyoman Yuliarsana, persoalan mengatur uang yang kala itu dikirim orang tua menggunakan wesel adalah sangat penting. Jika uang tidak diatur dengan baik, maka frustasi akan muncul karena kebutuhan harus terus dipenuhi. “Sedihnya mah kalau surat weselnya terlambat dan datang ke kantor pos weselnya belum ada dan tidak bisa terima uang. Sedih, marah dan kecewa dongkol frustasi itulah perasaanku ditambah dengan bekal rupiah sudah mulai menipis,” ujar I Nyoman.

Kebutuhan makanan menjadi hal utama yang harus diatur karena berdampak langsung terhadap keuangan. Oleh karenanya, menghemat pengeluaran untuk makan adalah hal yang banyak dilakukan para Astagian. Misalnya adalah I Dewa Ketut Sadra dengan cerita “Ikan Pasfoto”-nya. “Mungkin teman-teman Astagian belum kenal dengan ikan pas foto. Itulah, makanan yang mampu ku jangkau saat kuliah S1 di IPB. Uang saku yang terbatas membuatku prihatin alias ngirit. Ikan pas foto adalah ikan mujair yang sudah kecil dibagi dua pula, sehingga menjadi setengah badan alias pas foto,” jelas I Dewa. Memasak juga menjadi alternatif untuk menghemat pengeluaran makan. Namun, lebih dari sekadar berhemat, memasak juga merupakan sarana mengembangkan skill dan memererat kebersamaan sesama mahasiswa. Hal ini dapat dilihat dari cerita Winiati P. Rahayu:

“Masak sendiri saat itu adalah ajang yang tepat untuk belajar memasak, tentunya bagi gadis-gadis yang tidak malas. Kebanyakan kita masak sendiri juga tidak untuk waktu yang lama, terlalu repot kalau masak sendiri untuk diri sendiri saja. Yang pernah saya lakukan adalah masak bareng teman-teman karena dapur rumah kami yang leluasa dipakai.”

Mahasiswa IPB Angkatan 63 Astaga
Gambar 6. Potret Winiati P. Rahayu mahasiswi IPB angkatan 13 “Astaga” bersama seorang teman memasak di dapur (Sumber: Noorjaya dkk eds. 2018: 34)

Masih berhubungan dengan makanan, cerita unik datang dari Astagian bernama Indriaty Elizabeth Tobing. Ia bercerita bahwa urusan makan tidak hanya tentang mengatur pengeluaran uang, tetapi juga beradaptasi dengan jenis makanan di mana kampus IPB berada: makanan Sunda. Indriaty, yang berasal dari Medan, mengaku bahwa dirinya kesulitan beradaptasi dengan makanan Sunda sehingga sempat terkena maag ketika awal menjadi mahasiswa IPB. “Di awal perkuliahan aku terkena penyakit maag, karena belum terbiasa menikmati lalapan mentah, emping jengkol, sayur asem, dan lainnya,” jelas Indriaty. Selain jenis makanan, bahasa Sunda juga hal penting yang para Astagian harus sesuaikan. Astagian asal Palembang bernama Widiyanto D. Surya, misalnya, bercerita bahwa dirinya sampai meluangkan waktu khusus untuk mengobservasi dan belajar bahasa Sunda langsung di masyarakat:

“Setiap malam Minggu, atau malam libur, atau tidak ada ujian, saya pasti menghilang dari asrama dengan izin belajar bersama, mencari dan nongkrong di warung kopi di Jalan Lawang Saketeng atau warung bajigur Taman Kencana dan sekali-sekali di pasar sayur Ramayana. Di lokasi tersebut umumnya berkumpul banyak orang Sunda dengan berbagai profesi seperti sopir bemo, pedagang, pengangguran dan lainnya sedang ngobrol. Tentu banyak perbendaharaan kata yang didengar dan ikut nimbrung pembicaraan serta sering bertanya bila ada perkataan yang belum paham.”

Pada akhirnya, menjadi mahasiswa bukanlah sekadar menyandang status baru meninggalkan fase sebelumnya sebagai pelajar sekolah menengah. Lebih dari itu, menjadi mahasiswa memiliki makna proses adaptasi kehidupan, baik dalam hal akademik maupun personal. Berbagai pengalaman mahasiswa IPB angkatan 13 Astaga era 1970-an yang telah diceritakan di sini menggambarkan hal itu. Meskipun apa yang dialami para Astagian terjadi lima puluh tahun silam, ia tetap relevan sebagai inspirasi bagi mahasiswa IPB masa kini, khususnya mahasiswa baru angkatan 63 dalam menapaki jejak ke depan.

Referensi

Noorjaya, Tika, Asep Saefuddin, Erna Maria A. Lokollo, Gayatri R. Angreni, Widiyanto D. Surya, Winiati P. Rahayu, eds. 2017. Merajut Kenangan, Mensyukuri Nikmat Kebersamaan (Buku Kenangan Astagian Jilid 1). Bogor: ASTAGA IPB Angkatan 13.

Noorjaya, Tika, Asep Saefuddin, Erna Maria A. Lokollo, Euis Fatimah, Endang Vita Edno, Gayatri R. Angreni, Widiyanto D. Surya, Winiati P. Rahayu, eds. 2018. Merekatkan Kebersamaan, Melestarikan Persahabatan (Buku Kenangan Astagian Jilid 2). Bogor: ASTAGA IPB Angkatan 13.

Noorjaya, Tika, Asep Saefuddin, Gayatri R. Angreni, Widiyanto D. Surya, Widowatty Hs, Suryahadi, Euis Fatimah, Winiati P. Rahayu, eds. 2020. Mempererat Persahabatan, Menambah Kepedulian (Buku Kenangan Astagian Jilid 3). Bogor: ASTAGA IPB Angkatan 13.

Rahman C. Adiatma, Staf edukator Museum dan Galeri IPB Future