Kelestarian di Tengah Ancaman: Keanekaragaman Satwa Liar Kampus Darmaga pada 1990-an

Kelestarian di Tengah Ancaman: Keanekaragaman Satwa Liar Kampus Darmaga pada 1990-an

Kelestarian di Tengah Ancaman: Keanekaragaman Satwa Liar Kampus Darmaga pada 1990-an

Kampus Institut Pertanian Bogor (IPB) Darmaga telah menjadi rumah bagi kelestarian aneka ragam satwa liar sejak waktu yang lama. Salah satu catatan yang menunjukkan hal ini adalah penelitian tahun 1990 yang dilakukan oleh tim peneliti muda Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan IPB berjudul “Studi Aspek Pelestarian Satwaliar di Kampus IPB Darmaga.” Penelitian ini merupakan dokumentasi penting tentang keanekaragaman satwa liar di IPB Darmaga pada tahun 1990.

Tim peneliti ini dipimpin oleh Ir. Jarwadi Budi Hernowo sebagai kepala proyek. Sementara itu, anggota tim terdiri dari Ir. Dones Rinaldi, Ir. Nyoto Santoso, Ir. Rinekso Soekmadi, dan Ir. Ekarelawan. Tim peneliti ini berupaya mengetahui bagaimana ekologi dan tekanan yang dialami beragam satwa liar di IPB Darmaga kala itu. Seperti ditunjukkan oleh tim peneliti, mamalia, burung, reptil, dan ikan merupakan jenis-jenis satwa liar yang hidup di Kampus Darmaga pada 1990-an.

IPB Darmaga
Gambar 1. Pemandangan Kampus Darmaga dilihat dari atas pada tahun 1995 (Sumber: Mansjoer dkk 2017: 99)

Penelitian ini menjelaskan bahwa keanekaragaman satwa liar tersebut dapat terjadi berkat kayanya komponen ekosistem Kampus Darmaga. Beberapa di antara ekosistem tersebut meliputi tegakan karet, tegakan pinus, hutan campuran, arboretum, dan situ. Namun, area ekoton, yaitu campuran antara dua tipe habitat atau lebih, menjadi ruang terpenting tempat di mana banyak satwa liar hidup. Salah satu area ekoton ini adalah pertemuan antara tegakan karet tua dengan rawa dan semak belukar di lembah sebelah barat Asrama Sylvalestari dan barat Gedung PPLH IPB. Berbagai komponen ekosistem ini mendukung keanekaragaman satwa liar sebab memiliki fungsi sebagai tempat berlindung, bersarang, dan sumber makanan bagi mereka.

Mamalia merupakan jenis satwa liar pertama yang diuraikan dalam penelitian ini. Tercatat setidaknya 12 jenis mamalia yang hidup di Kampus Darmaga kala itu. Empat di antara jenis mamalia tersebut merupakan satwa yang dilindungi oleh undang-undang yaitu trenggiling (Manis javanica), landak (Hystryx javanica), garangan (Herpestes javanica), dan kucing hutan (Felis bengalensis). Adapun habitat utama tempat para mamalia ini hidup antara lain adalah arboretum, hutan campuran, dan tegakan pinus.

Satwa liar IPB
Gambar 2. Potret garangan di Kampus Darmaga hari ini (Sumber: Mustari 2020: 80)

Selain mamalia, burung juga menjadi jenis satwa liar lain yang hidup kala itu di Kampus Darmaga. Penelitian ini merincikan adanya 68 jenis burung, baik dengan tipe menetap, pendatang, maupun singgah. Di antara berbagai jenis tersebut, tercatat beberapa burung dengan jumlah banyak dan persebaran yang luas. Mereka adalah Kutilang (Pycnonotus aurigaster), walet (Collocalia esculenta), burung cabe (Dicaeum trochileum), dan pipit (Lonchura leucogastroides). Jenis-jenis burung ini dapat dengan mudah ditemui di berbagai tipe habitat Kampus Darmaga.

Satwa liar IPB
Gambar 3. Potret burung kutilang di Kampus Darmaga hari ini (Sumber: Mustari 2020: 204)

Reptilia merupakan jenis satwa liar lain yang ada di Kampus Darmaga. Penelitian ini mencatat keberadaan 37 jenis reptilia dengan susunan yaitu 2 jenis kura-kura, 1 jenis biawak, 8 jenis kadal, dan 26 jenis ular. Beberapa jenis reptilia ini sudah mulai jarang ditemui pada 1990-an. Beberapa diantaranya adalah kura-kura sawah, labi-labi, biawak, dan ular sanca. Penelitian ini menyebutkan bahwa reptilia memiliki arti penting bagi ekologi di Kampus Darmaga, seperti ular yang berperan sebagai predator untuk menyeimbangkan jaring makanan.

Satwa liar IPB
Gambar 4. Potret biawak di Kampus Darmaga (Sumber: Mustari 2020: 396)

Penelitian ini juga mencatat ikan sebagai jenis satwa liar lain yang hidup di Kampus Darmaga. Secara khusus, penelitian ini menyoroti Situ Leutik sebagai ruang tempat para ikan tersebut berada. Beberapa jenis ikan yang hidup di Situ Leutik sendiri adalah nila (Sarotherodon niloticus), mujair (S. mossambicus), sepat (Trichogaster sp.), dan gabus (Ophiocephalus striatus).

Ancaman juga mengiringi lestarinya keanekaragaman satwa liar Kampus Darmaga. Ancaman ini adalah berbentuk gangguan yang menyasar para satwa. Seperti disebutkan dalam penelitian ini, “beberapa bentuk gangguan terhadap satwa liar yang terdapat di areal Kampus IPB Darmaga yaitu penangkapan/perburuan, pemancingan ikan, pengambilan kayu bakar, dan penggembalaan liar.”

Dengan lebih rinci, penelitian ini menerangkan bahwa perburuan dan penangkapan merupakan ancaman utama yang menimpa satwa liar di Kampus Darmaga kala itu. Perburuan paling masif dilakukan terhadap mamalia (terutama landak dan trenggiling), serta jenis-jenis reptilia seperti kura-kura dan bulus. Sementara itu, burung juga mengalami hal serupa dengan bentuk penangkapan melalui jerat, pikat, hingga tembak. Dalam penjelasannya, penelitian ini menyebutkan bahwa alasan dibalik perburuan dan penangkapan satwa liar tersebut adalah konsumsi manusia dan ekonomi untuk dijual.

Seperti diterangkan sejarawan Abdul Wahid, perburuan satwa liar di Indonesia merupakan fenomena sejarah yang telah berlangsung sejak lama. “Perburuan terhadap binatang memiliki sejarah yang panjang dan sudah menjadi bagian dari realitas sosial kultural dari masyarakat setempat,” sebut Wahid (2025: 215). Ia kemudian menambahkan bahwa, seperti di IPB Darmaga, perburuan tersebut dilatarbelakangi oleh motif pemenuhan kebutuhan masyarakat.

Pada akhirnya, dapat dicermati bahwa perburuan satwa liar di IPB Darmaga bukanlah sebuah fenomena khusus. Alih-alih, ia merupakan bagian dari dinamika sejarah yang umum terjadi. Dengan demikian, upaya konservasi yang harus dilakukan untuk menjaga keanekaragaman satwa liar di Kampus Darmaga merupakan sesuatu yang tidak hanya memiliki arti penting bagi IPB, melainkan juga kelestarian satwa liar secara umum di Indonesia.

Referensi

Hernowo, Jarwadi Budi, Dones Rinaldi, Nyoto Santoso, Rinekso Soekmadi, Ekarelawan. 1990. “Studi Aspek Pelestarian Satwaliar di Kampus IPB Darmaga.” Laporan Akhir Hasil Penelitian. Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

Mansjoer, Sri Supraptini, Sundaningsih, Naresworo Nugroho, Oetomo Djajanegara, Sitanala Arsyad, Suryono Suryokusumo, Suwarno Sutarahardja, Bambang Pranggodo, Cahyono Tri Wibowo. 2017. Sejarah Perjalanan Institut Pertanian Bogor sebagai Lembaga Pendidikan Tinggi Pertanian, 1963-2017. Buku II: Pembangunan Gedung-gedung IPB. Bogor: IPB Press.

Mustari, Abdul Haris. 2020. Biodiversitas di Kampus IPB University: Mamalia, Burung, Amfibi, Reptil, Kupu-kupu dan Tumbuhan. Bogor: IPB Press.

Wahid, Abdul. 2025. “Seandainya Mereka Bisa Bicara: Sejarawan Indonesia Mulai Mendengarkan Jeritan Binatang.” Dalam Gerry van Klinken, ed., Bacaan Bumi: Pemikiran Ekologis untuk Indonesia. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, hlm. 211-23.

Rahman C. Adiatma, Staf edukator Museum dan Galeri IPB Future