Solusi untuk Penyakit Mati Bujang pada Cengkeh: Disertasi Profesor Toyib Hadiwijaya Tahun 1956

Solusi untuk Penyakit Mati Bujang pada Cengkeh: Disertasi Profesor Toyib Hadiwijaya Tahun 1956

Solusi untuk Penyakit Mati Bujang pada Cengkeh: Disertasi Profesor Toyib Hadiwijaya Tahun 1956

Prof. Dr. Ir. Toyib Hadiwijaya bukanlah nama asing dalam sejarah Institut Pertanian Bogor (IPB). Beliau dikenal sebagai Rektor IPB yang menjabat selama 1966 hingga 1971. Selain itu, Profesor Toyib juga menyandang status sebagai salah satu ahli fitopatologi (ilmu penyakit tumbuhan) awal yang dimiliki Indonesia. Penelitian penting yang menandai keahlian Profesor Toyib tersebut adalah disertasinya tahun 1956: “Matibudjang”-Disease of the Clove Tree (Eugenia aromatica Baill.). Beliau menulis disertasi tersebut di bawah bimbingan promotor Prof. T. H. Thung dan Prof. J. van Schuylenborgh pada Fakultas Pertanian Universitas Indonesia di Bogor.

Toyib Hadiwijaya
Gambar 1. Potret Profesor Toyib Hadiwijaya (Sumber: Wikimedia Commons)

Disertasi Profesor Toyib berangkat dari merebaknya penyakit “mati bujang” pada tumbuhan pohon cengkeh. Profesor Toyib menerangkan bahwa mati bujang merujuk kepada kematian pohon cengkeh setelah panen pertama dalam jangka waktu dua hingga empat tahun. Pada era 1950-an, ketika Profesor Toyib melakukan penelitiannya, mati bujang ini menjadi hambatan yang merintangi pemenuhan komoditas cengkeh bagi industri kretek.

Dengan demikian, disertasi Profesor Toyib menjadi sumbangsih bagi keberlangsungan hidup cengkeh yang memiliki nilai ekonomi penting. Untuk itu, Profesor Toyib menyampaikan bahwa disertasi yang ditulisnya ini berusaha menjawab setidaknya dua hal: penyebab terjadinya mati bujang dan sejauh mana kondisi budidaya cengkeh mempengaruhi kemunculan penyakit ini. Dalam usaha menjawab dua hal tersebut, Profesor Toyib melakukan penelitian sejak tahun 1954 di Sumatera (Painan, Talu, serta Cubadak) dan Jawa (Cimarga).

Disertasi Toyib Hadiwijaya
Gambar 2. Halaman kover disertasi Profesor Toyib Hadiwijaya tahun 1956, “‘‘Matibudjang’-Disease of the Clove Tree (Eugenia aromatica Baill.)”

Profesor Toyib mencatat bahwa mati bujang yang menimpa pohon cengkeh sebenarnya telah terjadi sejak masa kolonial tahun 1920-an. Kemudian, penjelasan penting tentang merebaknya penyakit ini datang dari entomolog Hindia Belanda bernama L. G. E. Kalshoven pada tahun 1934. Kalshoven menjelaskan bahwa mati bujang terjadi karena akar pohon cengkeh yang terganggu akibat buruknya kondisi tanah dan cara budidaya. Penjelasan Kalshoven ini kemudian diterangkan ulang dengan lebih komprehensif oleh Profesor Toyib dalam disertasinya (1956: 64):

“Penyakit ‘mati bujang’ terjadi akibat dari terganggunya keseimbangan biologis. Pada pohon cengkeh yang sehat, yang tumbuh di tanah dengan sirkulasi udara baik, memang terjadi pembusukan normal pada akar-akar halus, terutama akar-akar penyerap nutrisi. Namun, akar-akar ini secara teratur digantikan oleh pembentukan akar-akar baru. Setelah panen melimpah, sebagian akar pohon yang sehat pun akan mengalami kerusakan; hal ini mungkin ditandai dengan sedikit layu pada ujung akar. Namun, pohon semacam itu mampu pulih dengan cepat di tanah yang memiliki sirkulasi udara baik.”

Mati bujang cengkeh
Gambar 3. Potret sistem akar pohon cengkeh yang terkena penyakit mati bujang (Sumber: Hadiwidjaja 1956: 78)

Profesor Toyib juga menggambarkan ciri atau gejala yang menimpa pohon cengkeh ketika mengalami penyakit mati bujang. Yang paling tampak, daun-daun pada pohon cengkeh yang seharusnya berwarna hijau segar justru menampilkan warna hijau suram bahkan kuning dengan kondisi layu. Selain itu, tajuk pohon juga menunjukkan warna keabu-abuan akibat gugurnya daun di pucuk dan bagian bawah tajuk. Untungnya, penyakit mati bujang dengan beberapa gejala tersebut tidak bersifat menular.

Mati bujang cengkeh
Gambar 4. Potret pohon cengkeh yang tidak berdaun akibat terkena penyakit mati bujang (Sumber: Hadiwidjaja 1956: 78)

Sebagai solusi untuk penyakit mati bujang ini, melalui disertasinya Profesor Toyib menyampaikan empat langkah pengendalian: pemilihan tanah, pemilihan iklim, perbaikan budidaya, dan penggunaan tipe cengkeh yang ditanam. Pohon cengkeh sebaiknya ditanam pada tanah dengan sifat fisik yang baik, khususnya yang memiliki sirkulasi udara hingga kedalaman 1,5 meter. Iklim juga begitu menentukan, di mana pohon cengkeh harus berada di daerah yang memiliki rata-rata musim kering kurang dari empat bulan.

Untuk cara budidaya, pohon cengkeh harus diperlakukan dengan tidak melukainya ketika pemetikan dan juga harus dilakukan perawatan setelah panen, salah satunya adalah menggemburkan tanah yang terinjak di sekitar batang. Sebagai yang terakhir, tipe cengkeh yang dapat dipilih untuk ditanam adalah tipe Kotok karena ia lebih tahan dan produktif.

Secara historis, disertasi Profesor Toyib Hadiwijaya ini adalah sebuah usaha meneruskan penelitian untuk menjaga keanekaragaman tanaman pertanian dari ancaman penyakit. Dalam studinya, sejarawan lingkungan Luthfi Adam (2020: 19-20) menjelaskan bahwa penelitian seperti ini telah dimulai di Indonesia sejak masa kolonial pada abad 19. Hal ini dilakukan oleh ahli-ahli botani dan pertanian di Kebun Raya Bogor. Profesor Toyib bersama disertasinya adalah penerus dari tradisi ilmiah tersebut.

Referensi

Adam, Luthfi. 2020. “Cultivating Power: Buitenzorg Botanic Garden and Empire-Building in the Netherlands East Indies, 1745-1917.” Disertasi PhD. Northwestern University.

Hadiwidjaja, Tojib. 1956. “‘Matibudjang’-Disease of the Clove Tree (Eugenia aromatica Baill.).” Disertasi. Fakultas Pertanian Universitas Indonesia di Bogor.

Rahman C. Adiatma, Staf edukator Museum dan Galeri IPB Future