‘Kemajuan dan Penghormatan kepada Tradisi’: Menilik Mandat Presiden Abdurrahman Wahid untuk IPB
‘Kemajuan dan Penghormatan kepada Tradisi’: Menilik Mandat Presiden Abdurrahman Wahid untuk IPB
Institut Pertanian Bogor (IPB) memeringati 26 tahun peresmian tiga gedung penting di Kampus Darmaga pada bulan Oktober ini. Ketiga gedung tersebut adalah Fakultas Pertanian, Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis (sebelumnya Fakultas Kedokteran Hewan), dan Rumah Sakit Hewan Pendidikan. Presiden Abdurrahman Wahid, atau yang akrab disapa Gus Dur, hadir memberikan pidato pada acara peresmian ketiga gedung yang berlangsung pada 11 Oktober 2000 ini. Presiden menyampaikan pidato pada sesi pembukaan acara setelah Rektor IPB, Gubernur Jawa Barat, dan perwakilan Pemerintah Jepang memberi kata sambutan.

Melalui pidato yang disampaikan selama sekitar 20 menit, Presiden Abdurrahman Wahid menekankan bahwa IPB memiliki arti penting bagi bangsa dan negara. Hal ini langsung Presiden sampaikan pada bagian awal pidatonya. Ia menyatakan bahwa “IPB dengan 22,000 lebih mahasiswanya dan 7 fakultasnya, yang akan ditambah lagi dalam waktu tidak lama, mampu memberikan darma bakti yang lebih banyak lagi kepada bangsa dan negara kita.”
Presiden Abdurrahman Wahid terutama menyoroti bahwa arti penting IPB adalah untuk “melayani dua dunia yang tampak saling berbeda.” Dalam penjelasannya, Presiden memaknai dua dunia ini sebagai pertanian di pedesaan, yaitu “sektor tradisional,” dan ilmu pengetahuan di perguruan tinggi, yaitu “sektor modern.” Presiden menggaris bawahi tantangan para sivitas IPB yang harus menggabungkan kedua dunia ini. Tantangan ini ia jelaskan bukan sebagai sebuah ancaman, melainkan sebuah “keistimewaan dari IPB yang harus kita pelihara.”
Presiden Abdurrahman Wahid mengajak sivitas IPB untuk tidak melihat para petani, yaitu kalangan tradisional, dengan sebelah mata. Presiden menjelaskan bahwa para petani juga memiliki kebijaksanaan dan kearifannya sendiri. Seperti disampaikannya dengan lengkap:
“Orang-orang tradisional, para petani, yang kelihatannya tertinggal itu memiliki juga kebijaksanaan dan kearifan mereka sendiri. Saya teringat membaca tulisan John Steinbeck ‘Of Mice and Men,’ yang diterjemahkan oleh Trisno Sumarjo dengan buku ‘Tikus dan Manusia,’ di mana terlihat sekali betapa jiwa seorang petani yang kelihatannya tertinggal itu memiliki apa yang dikatakan wisdom-nya sendiri. Jadi, kalau memiliki wisdom sendiri, ya memiliki dunianya sendiri yang tidak boleh kita remehkan. Kalau kita remehkan, maka ya bila kita anggap tidak ada, pada waktunya dia akan menyatakan diri dalam bentuk yang mengejutkan kita.”
Selain mengajak untuk tidak meremehkan petani tradisional, Presiden Abdurrahman Wahid juga mendorong sivitas IPB agar mampu untuk “mempertahankan tradisi para petani.” Tradisi di sini bukan dimaknai Presiden sebagai hal yang bertentangan dengan kemajuan. Presiden menjelaskan bahwa tradisi yang harus dipertahankan adalah semangat atau rasa cinta terhadap dunia pertanian yang sejak lama telah para petani miliki, namun terancam di era modern. “Bagaimana semangat ini, kecintaan pada dunia pertanian ini, dapat kita kembangkan di kalangan petani-petani kita di saat sekarang terjadi proses urbanisasi yang semakin deras,” ungkap Presiden.

Pada bagian akhir pidato, Presiden Abdurrahman Wahid menegaskan tugas yang harus IPB lakukan. Presiden menyebut usaha IPB untuk memajukan dunia pertanian di perguruan tinggi juga harus diiringi dengan rasa hormat kepada tradisi yang dimiliki petani. Seperti disampaikannya dengan lengkap:
“Ini adalah tantangan bagi IPB untuk mewujudkan masyarakat pertanian yang maju, masyarakat pertanian yang mampu mengangkat derajat para petani kita dan juga mempertahankan budaya mereka dengan baik di tengah-tengah keragaman budaya bangsa kita, sambil tetap membuat mereka maju, antara kemajuan dan penghormatan kepada tradisi. Inilah sesuatu yang harus dikembangkan oleh IPB. … Saya merasa sangat bergembira dengan semakin berkembangnya IPB yang saya harapkan mampu memerankan tugas, yang sekaligus membina dan memajukan sektor pertanian kita, tetapi di dalam memajukan tetap menghormati tradisi yang ada, sesuatu yang hanya entitas seperti IPB mampu melakukannya.”
Presiden Abdurrahman Wahid menutup pidatonya dengan ucapan peresmian tiga gedung sekaligus menyampaikan selamat dies natalis IPB yang ke-37. Setelah pidato selesai, Presiden langsung menandatangani prasasti peresmian tiga gedung dengan didampingi oleh Rektor IPB Prof. Ir. M. Aman Wirakartakusumah, M.Sc., Ph.D. Acara kemudian diteruskan dengan doa bersama dan diakhiri oleh pertunjukan seni mahasiswa-mahasiswi IPB.

Dalam biografi Abdurrahman Wahid: Muslim Democrat, Indonesian President, Indonesianis terkemuka Greg Barton menyebut Presiden Abdurrahman Wahid dibentuk oleh keluarga yang berpikiran terbuka (open-minded), pendidikan serta bacaan modern ala Barat, Islam tradisional, dan masyarakat plural. Hal ini juga menjadi dasar yang melatari mandat Presiden untuk IPB. Pengalaman sejak kecil di lingkungan modern dan tradisional merupakan kebijaksanaan yang Presiden Abdurrahman Wahid titipkan kepada IPB dalam memajukan pertanian sekaligus merawat tradisi para petani.
Referensi
Arsip IPB, Koleksi Tim Sejarah IPB, Pidato Presiden RI Abdurrahman Wahid pada Acara Peresmian Gedung Fakultas Pertanian, Fakultas Kedokteran Hewan, dan Rumah Sakit Hewan Pendidikan, 2000-10-11, arsipedia.ipb.ac.id/handle/123456789/1314 (Diakses 1 Oktober 2026).
Barton, Greg. 2002. Abdurrahman Wahid: Muslim Democrat, Indonesian President. A View from the Inside. Sydney: University of New South Wales Press.
Manuwoto, Syafrida, Agustin Wydia Gunawan, Lina Kristina Dewi, Syafitri Hidayati, Busaid. 2017. Sejarah Perjalanan Institut Pertanian Bogor Sebagai Lembaga Pendidikan Tinggi Pertanian, 1963-2017. Buku I: Pertumbuhan Dan Perkembangan IPB. Bogor: IPB Press.
Rahman C. Adiatma, Staf edukator Museum dan Galeri IPB Future