‘Bertamasya ke Alam Matematika’: Kontribusi Profesor Andi Hakim Nasoetion bagi Literasi Anak
‘Bertamasya ke Alam Matematika’: Kontribusi Profesor Andi Hakim Nasoetion bagi Literasi Anak
Banyak tokoh penting yang telah dilahirkan Institut Pertanian Bogor (IPB) di sepanjang sejarahnya. Salah satu dari sekian tokoh penting tersebut adalah Prof. Dr. Ir. Andi Hakim Nasoetion. Tidak hanya sebagai Rektor IPB dua periode selama 1978 hingga 1987, nama Profesor Andi juga dikenal luas secara nasional. “Bapak Statistika Indonesia,” begitu publik mengetahui Profesor Andi.
Hubungan Profesor Andi dengan statistika dan matematika secara umum memang erat. Ia meraih gelar doktor bidang statistika percobaan dari North Carolina State University, Amerika Serikat pada tahun 1964. Setelahnya, Profesor Andi aktif sebagai dosen mata kuliah Matematika, Statistika, dan Perancangan Percobaan pada Departemen Ilmu Pengetahuan Alam IPB sejak 1965. Komitmen kuat pada statistika dan matematika dibuktikannya kembali ketika menjabat Dekan Fakultas Pertanian IPB selama 1966 hingga 1969. Kala itu, Profesor Andi mempelopori pembentukan Jurusan Statistika.

Selain dalam dunia pendidikan tinggi di IPB, Profesor Andi juga berkontribusi bagi peningkatan literasi matematika anak. Hal ini dilakukannya dengan menulis artikel-artikel bertema matematika di majalah anak Si Kuncung pada era 1970-an. Ia menginisasi rubrik Bertamasya ke Alam Matematika, melengkapi seri karangan ilmiah majalah ini yang juga diisi oleh kalangan profesor berbagai bidang lain.
Seperti ditulis Atika S. Hadi (2018: 81) dalam artikel “Cerita Si Kuncung: Membaca Relasi Kuasa dalam Majalah Anak-anak Indonesia”:
“Selain para sarjana, pengisi majalah Si Kuncung juga datang dari kalangan profesor. Prof. Andi Hakim Nasoetion dari IPB dengan senang hati mengisi rubrik matematika. Begitu juga dengan Prof. Teuku Jacob dari UGM yang menyajikan rubrik arkeologi dalam Serial Manusia Purba Indonesia, serta Prof. Otto Soemarwoto yang menulis rubrik lingkungan hidup.”

Dahulu, majalah Si Kuncung begitu legendaris di kalangan anak-anak khususnya sekolah dasar. Eksis sejak tahun 1956, majalah ini didirikan dan diasuh oleh eks wartawan berbagai harian terkemuka seperti Pedoman, Mimbar Indonesia, hingga Siasat. Tak mengherankan, reputasi tersebut membuat Si Kuncung menjadi “majalah anak-anak pertama yang didaulat secara resmi sebagai majalah anak nasional oleh pemerintah Indonesia pada era Presiden Soeharto,” seperti ditulis Hadi (2018).
Dengan menulis artikel bertema matematika di Si Kuncung, Profesor Andi berharap agar anak-anak Indonesia dapat menjadi matematikawan masa depan. Hal ini seperti ditulisnya pada pengantar rubrik Bertamasya ke Alam Matematika: “Bapak bermaksud mengajak anak-anakku di seluruh Nusantara untuk bertamasya. Ke mana? Ke alam Matematika. Mudah-mudahan ada dari kalian yang terpesona akan keindahannya. Sehingga ada pula yang bercita-cita menjadi matematikawan.”

Pada majalah Si Kuncung, Profesor Andi menuliskan dasar-dasar ilmu matematika. Ia menjelaskan topik hitung-menghitung, prinsip bangun dalam matematika, hingga sejarah simbol-simbol matematis. Berbagai topik tersebut juga disampaikan Profesor Andi melalui contoh keseharian yang dekat dengan anak-anak. Ia kerap mengajak anak melihat realitas di sekeliling, seperti aktivitas perdagangan hingga perkakas rumah, untuk memahami matematika.
Hal ini misalnya dapat diketahui dari salah satu tulisannya yang berjudul “Perkalian dan Pembagian.” Di sana, Profesor Andi mengajarkan prinsip kali/bagi dengan pendekatan peristiwa jual-beli buah duku. Ia mengajak pembaca membayangkan bagaimana pedagang duku menghitung buah yang dijualnya kepada pembeli untuk menjelaskan perkalian. Ia kemudian menuliskan cerita seorang ayah yang telah mendapatkan duku dari pedagang dan kemudian membagikan kepada para anaknya. Cerita ini digunakan Profesor Andi untuk menjelaskan pembagian.
Seperti ditulis Profesor Andi dengan lengkap:
“Apa yang telah dilakukannya? la mengambil duku lima buah dalam genggaman tangannya dan kemudian memindahkannya ke dalam bongsang dan mengulang pekerjaan itu dua puluh kali. Dari segi berhitung, ia telah menjumlah lima secara beruntun sebanyak 20 kali: 5+5+5+5+5 + 5+5+5+5+5 + 5+5+5+5+5 + 5+5+5+5+5 = 100. Payah sekali cara menulisnya bukan? Karena pada dasarnya matematikawan itu enggan membuang waktu dan tenaga secara percuma, ia membuat cara menulis yang ringkas (ataukah matematikawan itu pemalas?): 20 × 5 = 100. Ini dibaca: ‘dua puluh kali lima.’ Artinya: lima dijumlah dua puluh kali. Sekarang mari kita tinjau kebalikan peristiwa menjual duku. Seorang ayah pulang ke rumah menenteng sebongsang duku. Di dalam bongsang ada duku seratus buah. Anaknya ada lima. Setiba di rumah ayah akan menggenggam lima buah duku dan membaginya satu demi satu ke setiap orang anaknya. Setelah duku itu habis, ia mengambil lagi duku ke dalam genggamannya. Satu-satu dibagikannya duku itu dan seterusnya. Tidak berapa lama duku di dalam bongsang sudah habis. Berapa kali ayah mengambil lima duku segenggam? Tentu kita tahu jawabnya, yaitu dua puluh. Apa yang telah dilakukan ayah secara berhitung ialah mengadakan pengurangan beruntun: 100 = 5-5-5-5-5 -5-5-5-5-5 -5-5-5-5-5 -5-5-5-5-5 = 0. Dua puluh kali ayah harus mengurangi lima duku dari keranjang, agar keranjang itu menjadi kosong. Kalimat pengurangan beruntun di atas dapat disingkat menjadi 100:5 = 20 dan dibaca ‘seratus dibagi lima sama dengan dua puluh.’ Kita juga dapat mengatakan bahwa ‘seratus dibagi lima sama dengan dua puluh’ artinya ialah: ‘Kalau seratus dikurangi oleh lima sebanyak dua puluh kali, maka hasilnya menjadi nol.’”
Selanjutnya, dalam artikel “Apa yang Dapat Kita Pelajari dari Suatu Kubus,” Profesor Andi juga menjelaskan dasar ilmu matematika yaitu prinsip bangun ruang. Di awal tulisan, ia mengajak pembaca menengok kotak peti yang dapat ditemukan di sekeliling. Profesor Andi kemudian menulis bahwa terdapat sebuah kotak peti yang bentuknya “istimewa” bernama kubus, yaitu kotak yang “baik dasarnya, tutupnya, maupun keempat dindingnya sama bentuknya.” Pembaca kemudian diajak untuk membuat kubus menggunakan karton manila. Dari sini, Profesor Andi menuntun sambil menjelaskan sifat-sifat dari kubus karton manila tersebut.
Seperti ditulis Profesor Andi dengan lengkap:
“Kita dapat membentuk suatu kubus yang terbuat dari karton manila. Caranya ialah dengan menjiplak gambar pola terlampir pada kertas karton itu. Kemudian guntinglah menurut garis putus-putus. Setelah itu buatlah lipatan-lipatan menurut garis-garis mulus. Sambil melipat kertas menjadi bentuk kubus, rekatkanlah lidah-lidah yang berhuruf atau angka sama dengan perekat. Jadilah sebuah kubus. Kubus itu mempunyai 6 muka. Setiap muka bentuknya berupa bujur sangkar. Tepi bujur sangkar itu berupa garis lurus. Setiap tiga muka yang berdampingan bertemu pada suatu puncak. Ujung puncak itu berupa suatu titik. Garis lurus yang menjadi tepi bujur sangkar itu disebut rusuk kubus. Semua rusuk kubus sama panjangnya. Dua rusuk kubus yang bertemu di puncak kubus membentuk suatu sudut siku-siku. Semua keterangan ini adalah pengetahuan pokok yang diperlukan di dalam geometri atau ilmu ukur.”
Tentang topik sejarah matematika, hal ini dapat dibaca salah satunya pada artikel Profesor Andi berjudul “Huruf-huruf Abjad yang Dijadikan Lambang Bilangan.” Di sana, ia mengajak pembaca menelusuri asal-usul penggunaan simbol tertentu untuk lambang bilangan oleh dua peradaban masa lampau, yaitu Yunani dan Romawi. Dengan adanya artikel ini, Profesor Andi tidak hanya menambah literasi anak dalam hal hitung-menghitung, melainkan juga wawasan matematika secara lebih umum.

Setelah tidak lagi aktif menulis di Si Kuncung, Profesor Andi tetap berkontribusi bagi penguatan literasi generasi muda. Pada tahun 1991, ia menulis buku Panduan Berpikir dan Meneliti secara Ilmiah untuk Remaja dan diterbitkan oleh Grasindo. Dalam bidang matematika, ia juga menunjukkan komitmennya dengan menulis buku mata pelajaran bagi siswa SMA, yaitu Buku Matematika I, II, dan III. Seri buku mata pelajaran matematika ini diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mulai tahun 1994.
Referensi
Arsip IPB, Koleksi Tim Sejarah IPB, Riwayat Hidup Andi Hakim Nasoetion, 2023, arsipedia.ipb.ac.id/handle/123456789/378 (Diakses 20 September 2026).
Atmojo, Kemala. 2008. “Majalah Lama: ‘Si Kuncung’ Tahun 1975.” koleksikemalaatmojo.blogspot.com/2008/08/majalah-si-kuncung-tahun-1975.html (Diakses 20 September 2026).
Hadi, Atika S. 2018. “Cerita Si Kuncung: Membaca Relasi Kuasa dalam Majalah Anak-anak Indonesia.” Indonesian Historical Studies, Vol. 2, No. 2, hlm. 71-82.
Siregar, Emir A. dkk, eds. 1983. 20 Tahun Institut Pertanian Bogor. Bogor: Pusat Sumberdaya Informasi (IRC).
Rahman C. Adiatma, Staf edukator Museum dan Galeri IPB Future