Partisipasi dan Kolaborasi: Riwayat Dewan Mahasiswa IPB, 1963-1978
Partisipasi dan Kolaborasi: Riwayat Dewan Mahasiswa IPB, 1963-1978
Sebelum kampus-kampus di Indonesia memiliki Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), dunia keorganisasian mahasiswa sempat diisi oleh badan lain. Di Institut Pertanian Bogor (IPB), terdapat Dewan Mahasiswa IPB (DM-IPB) yang eksis sejak tahun 1963 hingga 1978.
Murray Thomas, penulis buku A Chronicle of Indonesian Higher Education, menjelaskan bahwa setelah Indonesia merdeka terdapat setidaknya tiga jenis badan kemahasiswaan: dewan mahasiswa, asosiasi persaudaraan lokal, dan organisasi mahasiswa yang berafiliasi dengan partai politik nasional. Terkait dewan mahasiswa, Thomas merinci bahwa badan ini memiliki fungsinya tersendiri. “[Fungsi dewan mahasiswa] adalah untuk menyelenggarakan kegiatan sosial-rekreasional dan untuk mewakili mahasiswa dalam berbagai urusan seperti tempat tinggal yang layak, peraturan yang adil bagi mahasiswa, dan sesi orientasi untuk mahasiswa baru,” rinci Thomas (1973: 218).
Untuk mengetahui riwayat DM-IPB, maka perlu dipahami terlebih dahulu keberadaan pendahulunya yaitu Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia (DM-UI). Seperti dicatat oleh Syafrida Manuwoto dkk (2024: 141-43), DM-UI berdiri pada tahun 1955 dan diisi oleh tiga unsur yaitu badan perwakilan, badan pekerja, dan senat mahasiswa tingkat fakultas. Di dalam ketiga unsur DM-UI tersebut, UI di Bogor berpartisipasi melalui senat mahasiswa pada Fakultas Pertanian (FP) dan Fakultas Kedokteran Hewan (FKH).
Senat Mahasiswa FP-UI dan FKH-UI di Bogor bergerak dalam beragam kegiatan (Manuwoto dkk 2024: 153-56). Untuk Senat Mahasiswa FP-UI, fokus diberikan dalam kegiatan-kegiatan yang meliputi orientasi mahasiswa baru, konferensi pertanian mahasiswa, dan pelayanan kepada masyarakat. Sementara itu, Senat Mahasiswa FKH-UI mengurusi hal-hal yang lebih meluas seperti penyediaan perumahan layak, melalui Yayasan Mahasiswa Bogor, dan penyediaan poliklinik serta kafetaria, melalui Badan Kesehatan Mahasiswa.
Seiring dengan pendirian IPB pada tahun 1963, perubahan juga terjadi bagi dunia organisasi kemahasiswaan kampus UI di Bogor sebelumnya di atas. DM-IPB dibentuk sebagai wadah baru bagi dua senat mahasiswa yang sudah ada, yaitu FP dan FKH, plus senat mahasiswa fakultas bentukan baru, yaitu Perikanan, Peternakan, dan Kehutanan (Manuwoto dkk 2024: 165-66). Dengan demikian, senat-senat mahasiswa tingkat fakultas telah menginduk ke DM-IPB sepenuhnya sejak tahun 1963.

Daud Husni Thamrin, Ketua DM-IPB pertama, menceritakan bahwa organisasi yang dipimpinnya ini berperan dalam proses pendirian IPB yang melepaskan diri dari UI pada tahun 1963. Seperti Daud Husni Thamrin (2017: 287) ceritakan secara lengkap:
“Rektor UI tetap bersikap bahwa Institut Pertanian yang baru merupakan bagian dari Universitas Indonesia. Hal ini secara incognito disampaikan oleh Pak Bachtiar Rifai selaku rektor, kepada saya selaku Ketua Dewan Mahasiswa, dengan maksud agar mahasiswa dapat bersikap sama seperti keinginan Pak Toyib, yaitu IPB berdiri sendiri tidak lagi berada dalam lingkup UI. Setelah Dewan Mahasiswa melakukan rapat, yaitu antara Majelis Musyawarah Mahasiswa dan Badan Pekerja Dewan Mahasiswa, mahasiswa bulat berpendapat bahwa IPB harus berdiri sendiri terlepas dari UI. Selanjutnya Dewan Mahasiswa IPB menemui Pimpinan Dewan Mahasiswa UI yang waktu itu diketuai oleh Hasan Rangkuty. Melalui perundingan dan perdebatan yang alot dan panjang, akhirnya dengan jiwa besar kawan-kawan di Dewan Mahasiswa UI memahami dan sekaligus mendukung dan merestui Dewan Mahasiswa IPB berdiri sendiri. Dengan berhasilnya Dewan Mahasiswa IPB mendapat dukungan dari Dewan Mahasiswa UI maka sikap Rektor UI turut berubah.”
Sejak pendiriannya, DM-IPB telah berpartisipasi dalam kehidupan mahasiswa IPB melalui berbagai kegiatan. Salah satu yang paling menonjol adalah partisipasi DM-IPB di dalam Orientasi Mahasiswa sejak tahun 1972 (Manuwoto dkk 2024: 453-54). Bersama pihak kampus, DM-IPB menyusun program orientasi ini untuk diadakan selama satu semester yang dibagi menjadi dua tahap. Yang pertama adalah masa pengarahan, yaitu terdiri atas kegiatan ceramah tentang kehidupan kampus, perkenalan, dan darmabakti, sedangkan yang kedua adalah masa pembinaan yang berisi studium generale dan unit kegiatan, salah satunya pers mahasiswa.
Selain itu, DM-IPB juga sering mengadakan Latihan Kepemimpinan Mahasiswa (LKM). Tujuan dari kegiatan ini adalah “untuk menjamin keberlanjutan kepemimpinan di dalam kegiatan kemahasiswaan di lingkungan IPB,” terang Manuwoto dkk (2024: 188). Sebagai partisipan LKM, akan dipilih beberapa mahasiswa IPB terpilih yang memiliki prestasi baik. Selama LKM, mereka akan diberikan materi oleh tokoh mahasiswa, dosen serta pimpinan IPB, dan pejabat pemerintah.

Yang membanggakan, DM-IPB juga mewakili mahasiswa IPB di level kawasan regional untuk menjadi anggota Perhimpunan Mahasiswa Asia Tenggara (ASEAUS). Perhimpunan yang didirikan pada tahun 1968 ini sempat memercayakan DM-IPB sebagai Direktur Proyek Pembangunan Masyarakat. Seperti diungkapkan Manuwoto dkk (2024: 460), tanggung jawab DM-IPB di dalam ASEAUS membuktikan bahwa “mahasiswa IPB mampu menunjukkan kecakapannya dalam berbagai bidang tidak hanya di dalam negeri tetapi juga dapat diterapkan di negara-negara anggota.”
Tahun 1978 menjadi akhir dari riwayat perjalanan DM-IPB. Hal ini berkaitan erat dengan terjadinya upaya “mendepolitisasi kehidupan mahasiswa di kampus,” mengutip frasa sejarawan Sony Karsono (2013: 312). Tak mengerankan, DM-IPB memang aktif berkolaborasi dengan berbagai dewan mahasiswa kampus lain untuk merespons perkembangan sosial-politik terkini sejak tahun 1977. Puncaknya, DM-IPB turut mendukung Ikrar Mahasiswa 1977. Bunyi dari ikrar itu adalah “1) Kembali pada Pancasila dan UUD 1945, 2) Meminta pertanggungjawaban Presiden, dan 3) Bersumpah setia bersama rakyat menegakkan kebenaran dan keadilan” (Manuwoto dkk 2024: 28).
Akibatnya, pada tahun 1978 diterbitkan surat SKEP Kopkamtib No. 02/SKEP/I/78 yang mengatur pembekuan dewan mahasiswa di seluruh Indonesia, termasuk DM-IPB. Namun, pembekuan DM-IPB tersebut bukannya tanpa diiringi usaha untuk membangkitkan organisasi ini kembali. Sejak tahun 1978, upaya-upaya terkait hal itu muncul dengan dilakukannya percobaan membentuk Dewan Mahasiswa Perjuangan dan Badan Eksekutif Mahasiswa (Manuwoto dkk 2024: 193-95). Namun, berbagai upaya itu tak pernah berhasil.
Pada akhirnya, perjalanan DM-IPB selama tahun 1963 hingga 1978 dapat dipahami sebagai sebuah riwayat partisipasi dan kolaborasi. DM-IPB telah berpartisipasi di dalam pengembangan kehidupan mahasiswa IPB dengan berbagai inisiatif seperti Orientasi Mahasiswa dan LKM. Organisasi ini juga telah berhasil menjadi representasi IPB di level regional Asia Tenggara dengan keikutsertaannya di dalam ASEAUS. Sebagai wujud kolaborasi, DM-IPB juga aktif mendorong “kontrol sosial,” menggunakan istilah R. Murray Thomas (1973: 13), bersama dewan-dewan mahasiswa berbagai kampus Indonesia dengan menyuarakan aspirasi masyarakat selama tahun 1977 hingga 1978.
Referensi
Karsono, Sony. 2013. “Indonesia’s New Order, 1966-1998: Its Social and Intellectual Origins.” Disertasi PhD. Ohio University.
Manuwoto, Syafrida, Syafitri Hidayati, Rizky Amelia. 2024. Sejarah Perjalanan Institut Pertanian Bogor Sebagai Lembaga Pendidikan Tinggi Pertanian, 1963-2018: Sejarah Kemahasiswaan IPB. Bogor: IPB Press.
Thamrin, Daud Husni. 2017. “Institut Pertanian Bogor Almamater Kami.” Dalam Syafrida Manuwoto, Soekarja Somadikarta, Sejarah Kelahiran Institut Pertanian Bogor: Lembaga Pendidikan Tinggi Ilmu-ilmu Pertanian Tertua di Indonesia. Bogor: IPB Press, hlm. 286-88.
Thomas, R. Murray. 1973. A Chronicle of Indonesian Higher Education: The First Half Century, 1920-1970. Singapore: Chopmen Enterprises.
Rahman C. Adiatma, Staf edukator Museum dan Galeri IPB Future