Memahami Ekologi Banteng di Ujung Barat Pulau Jawa: Disertasi Profesor Alikodra Tahun 1983
Memahami Ekologi Banteng di Ujung Barat Pulau Jawa: Disertasi Profesor Alikodra Tahun 1983
Institut Pertanian Bogor (IPB) telah berkontribusi kepada penelitian konservasi satwa liar sejak waktu yang lama. Seperti ditulis Kompas (14 Juli 1999) dalam artikel berjudul “Alikodra Intip Banteng ‘Ngerumpi,’” pengajar purnatugas Fakultas Kehutanan (Fahutan) IPB Profesor Hadi Sukadi Alikodra merupakan seseorang yang “selalu tampil di barisan terdepan” untuk bidang penelitian tersebut. Disertasi Profesor Alikodra yang diselesaikannya pada tahun 1983 merupakan capaian penting yang menandai awal dari kontribusi beliau. Berfokus kepada Banteng Jawa (Bos javanicus d’Alton), disertasi Profesor Alikodra berupaya memahami ekologi dari satwa liar ini, yaitu bagaimana mereka hidup di dalam dinamika lingkungannya di Taman Nasional Ujung Kulon (TNUK), sebuah wilayah di ujung barat Pulau Jawa.

Banteng yang diteliti Profesor Alikodra memiliki riwayat keterancaman yang panjang. Sejarawan lingkungan Peter Boomgaard (1999) menerangkan bahwa banteng di Jawa bagian Barat telah banyak diburu selama abad 19. Oleh karenanya, pemerintah kolonial kemudian membuat ordonansi yang mengatur perburuan satwa liar termasuk banteng pada akhir abad itu. Pada waktu-waktu kemudian, Profesor Alikodra (1983: 1-2) menyebutkan bahwa keterancaman banteng ini kian mengkhawatirkan. Ia mencatat pada tahun 1940 populasi dari Banteng Jawa adalah 2,000 ekor dan angka tersebut mengalami penurunan signifikan menjadi 1,000 ekor pada dasawarsa 1980-an. Menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN), Banteng Jawa dikategorikan sebagai satwa rentan (vulnerable) saat Profesor Alikodra melakukan penelitian disertasi. Hal tersebut menjadikan disertasi Profesor Alikodra ini menjadi sangat penting.

Wilayah TNUK yang merupakan tempat penelitian disertasi Profesor Alikodra berada di Cijungkulon. Wilayah ini memiliki luas 336,15 ha dan berada di daerah aliran sungai Cijungkulon-Cidaun. Wilayah Cijungkulon ini memenuhi komponen utama yang harus dipenuhi sebagai habitat tempat Banteng Jawa hidup yaitu hutan, padang penggembalaan, dan air (Alikodra 1983: 4). Profesor Alikodra (1983: 138) menjelaskan bahwa padang penggembalaan merupakan tempat terpenting bagi kehidupan Banteng Jawa karena area ini adalah tempat di mana mereka mencari makanan, mengasuh anak, dan menjalani aneka interaksi sosial. Sayangnya, area padang penggembalaan ini mengalami penyusutan. Profesor Alikodra (1983: 138) mengutarakan bahwa area padang penggembalaan Cijungkulon tercatat memiliki luas 18 ha, namun pada kenyataannya hanya terdapat seluas 5,9 ha ketika beliau melakukan penelitian. Hal ini menggambarkan terjadinya penurunan kualitas lingkungan hidup Banteng Jawa.
Meskipun hutan bukanlah tempat hidup utama Banteng Jawa, area ini tetap memiliki fungsi bagi diri mereka (Alikodra 1983: 93-94). Hutan wilayah Cijungkulon adalah tempat utama Banteng Jawa berlindung dari segala ancaman yang menyasar. Profesor Alikodra menjelaskan bahwa jika Banteng Jawa melihat manusia dan predator mendekat, maka mereka akan langsung lari untuk bersembunyi ke dalam hutan. Selain itu, hutan juga menjadi tempat Banteng Jawa melakukan pengawasan atas kondisi sekitar. Jika dirasa situasi telah aman, maka mereka akan langsung kembali ke tempat hidup utama mereka, yaitu area padang penggembalaan.
Komponen air dari lingkungan Cijungkulon juga memiliki peran bagi kehidupan Banteng Jawa (Alikodra 1983: 123). Area air ini merupakan sumber asupan minum utama para banteng, khususnya di aliran sungai Cijungkulon dan Cidaun. Profesor Alikodra menjelaskan bahwa Banteng Jawa kerap mendekat ke daerah sungai tersebut pada malam hari. Selain aliran sungai, pantai juga merupakan daerah tempat alternatif bagi para banteng melakukan aktivitas minum. Akan tetapi, Banteng Jawa mengurangi aktivitas minumnya di sungai dan pantai ketika musim penghujan tiba. Pada periode penghujan, para banteng cenderung untuk memanfaatkan genangan air di area padang penggembalaan sebagai sumber utama asupan minum.
Seperti telah disebutkan sebelumnya, area padang penggembalaan adalah tempat hidup utama Banteng Jawa di TNUK khususnya Cijungkulon. Profesor Alikodra (1983: 106, 117) secara lebih jauh menyoroti bahwa fungsi terpenting dari padang penggembalaan bagi para banteng adalah sebagai tempat aktivitas makan. Beliau mencatat bahwa terdapat setidaknya 26 jenis tumbuhan di dalam area padang penggembalaan Cijungkulon, di mana 76% dari keseluruhan jenis tersebut dimakan oleh banteng. Adapun tumbuhan yang dimakan Banteng Jawa ini adalah rumput dengan jenis Jukut dom-doman (Chrysopogon aciculatus), Jampang pait (Axonopus compressus), dan Kakawatan (Ischaemum muticum).

Penyusutan padang penggembalaan, seperti yang juga telah disinggung sebelumnya, ternyata berpengaruh negatif terhadap kelestarian Banteng Jawa (Alikodra 1983: 212-22). Profesor Alikodra menjelaskan bahwa penyusutan ini memicu perubahan pada perilaku makan banteng dari yang semula adalah rumput menjadi semak dan daun muda akibat terdorongnya mereka ke dalam hutan. Selain itu, minimnya area padang penggembalaan juga menyebabkan adanya perubahan pola aktivitas penopang hidup utama banteng yaitu kawin dan mengasuh anak. Perubahan pola aktivitas ini akhirnya membuat struktur populasi banteng yang tidak seimbang secara kelompok umur dan reproduksi. Sekali lagi, hal ini terjadi karena mereka terpaksa terdorong ke dalam hutan.
Pada akhirnya, Profesor Alikodra (1983: 170) menegaskan bahwa permasalahan yang menimpa komponen-komponen dari habitat Banteng Jawa di TNUK akan berimbas terhadap kegagalan wilayah ini dalam menyediakan aspek vital kehidupan mereka yaitu makan, air, dan berlindung. Hal ini kemudian akan mendorong terjadinya migrasi Banteng Jawa. Profesor Alikodra menjelaskan bahwa pada dasawarsa 1980-an, para banteng sudah tidak dapat melakukan migrasi karena terkurung oleh aktivitas manusia yang dilakukan di sekitar habitatnya.
Disertasi Profesor Alikodra yang ditulis pada tahun 1983 menjadi pengingat tentang arti penting kelestarian satwa liar Banteng Jawa. Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa hari ini keadaan Banteng Jawa semakin terancam. Banteng Jawa tersebut tergolong ke dalam satwa liar terancam punah (Qiptiyah dkk 2023: 63). Disertasi Profesor Alikodra menunjukkan kontribusi IPB terhadap penelitian konservasi satwa liar di Indonesia. Namun, di sisi yang lain, secara historis disertasi yang membahas ekologi banteng ini dapat dimaknai sebagai upaya untuk “mendengarkan” suara para banteng dan menghadirkannya sebagai sebuah catatan sejarah (Wahid 2025).
Referensi
Alikodra, Hadi Sukadi. 1983. “Ekologi Banteng (Bos javanicus d’Alton) di Taman Nasional Ujung Kulon.” Disertasi doktor. Institut Pertanian Bogor.
“Alikodra Intip Banteng ‘Ngerumpi.’” Kompas, 14 Juli 1999 (Diakses melalui rumahpengetahuan.web.id/alikodra-intip-banteng-ngerumpi pada 15 April 2026).
Boomgaard, Peter. 1999. “Oriental Nature, Its Friends and Its Enemies: Conservation of Nature in Late-Colonial Indonesia, 1889-1949.” Environment and History, Vol. 5, No. 3, hlm. 257-92.
Gardner, Penny C., Satyawan Pudyatmoko, Naris Bhumpakphan, Marnoch Yindee, Datuk Laurentius N. Ambu, Benoit Goossens. 2014. “Banteng Bos javanicus d’Alton, 1823.” Dalam Mario Melletti, James Burton, eds., Ecology, Evolution and Behaviour of Wild Cattle: Implications for Conservation. Cambridge: Cambridge University Press, hlm. 216-30.
Qiptiyah, Maryatul, Raden Garsetiasih, Antonius Y. P. B. C. Widyatmoko, Ida L. G. Nurtjahjaningsih. 2023. “Banteng Jawa: Bioekologi, Genetik, dan Upaya Pelestariannya.” Dalam Tri Atmoko, Hendra Gunawan, eds., Mengenal Lebih Dekat Satwa Langka Indonesia dan Memahami Pelestariannya. Jakarta: Penerbit BRIN, hlm. 63-81.
Wahid, Abdul. 2025. “Seandainya Mereka Bisa Bicara: Sejarawan Indonesia Mulai Mendengarkan Jeritan Binatang.” Dalam Gerry van Klinken, ed., Bacaan Bumi: Pemikiran Ekologis untuk Indonesia. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, hlm. 211-23.
Rahman C. Adiatma, Staf edukator Museum dan Galeri IPB Future