Refleksi 63 Tahun IPB: Mengingat Mandat ‘Soal Hidup atau Mati’ Presiden Sukarno
Refleksi 63 Tahun IPB: Mengingat Mandat ‘Soal Hidup atau Mati’ Presiden Sukarno
Institut Pertanian Bogor (IPB) genap memasuki umur yang ke-63 tahun pada bulan September ini. Berdiri sejak 1963, IPB dalam perjalanannya telah diberikan mandat oleh presiden-presiden Republik Indonesia. Hal ini tidak terkecuali Presiden Sukarno yang menyampaikan pidato berjudul “Soal Hidup atau Mati.” Pidato tersebut Presiden Sukarno sampaikan pada tahun 1952 dalam momen Peletakan Batu Pertama Gedung Fakultas Pertanian Universitas Indonesia (UI) di Bogor, cikal bakal IPB yang terletak di Baranangsiang.

Seperti terdokumentasikan dalam Arsip Film Pusat Produksi Film Negara (PPFN), Presiden Sukarno membacakan pidato setelah sambutan-sambutan yang diberikan oleh Presiden UI, Dekan Fakultas Pertanian, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dan Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga. Presiden Sukarno menggelorakan pidato “Soal Hidup atau Mati” yang mendorong agar pemuda-pemudi mendalami ilmu pertanian dan perhewanan untuk mendukung kebutuhan pangan rakyat. “Akhirnya Presiden mengucapkan pidato yang terutama ditujukan kepada segenap pemuda dan pemudi agar giat belajar dalam ilmu pertanian dan perhewanan, menyiapkan diri berjuang di lapang persediaan makanan rakyat,” seperti direkam Arsip Film PPFN.
Dalam pidatonya, Presiden Sukarno membuka dengan menjelaskan arti dari “hidup atau mati” yang ia maksud sebagai persoalan pangan rakyat. Presiden menerangkan bahwa pemuda-pemudi pelajar ilmu tani dan hewan harus memikirkan cara untuk mencukupi dan menambah persediaan makanan, mengingat hal ini berhubungan erat dengan hidup atau matinya rakyat. Presiden kemudian menekankan pentingnya hal ini dengan memberikan perhitungan tentang potensi tak terpenuhinya pangan seiring dengan kian meningkatnya jumlah rakyat. Seperti Presiden Sukarno sampaikan:
“Kita sekarang ini menghadapi satu bayangan hari-kemudian yang amat ngeri, bahkan satu todongan pistol “mau hidup ataukah mau mati,” satu tekanan tugas “to be or not to be”? Di dalam tahun 1960 nanti tekor kita sudah akan 6,3 juta ton – berapa juta ton nanti dalam tahun 1970 kalau penduduk kita sudah mendjadi 90-95 juta, dan berapa lagi dalam tahun 1980 kalau penduduk kita lebih dari 100 juta? Engkau, pemuda-pemudi, engkau terutama sekali harus menjawab pertanyaan itu, sebab hari-kemudian adalah harimu, alam-kemudian adalah alammu.”
Presiden kemudian memberikan inspirasi bahwa peningkatan persediaan pangan rakyat dapat ditambah salah satunya dengan “menggiatkan (mengintensivir) usaha pertanian.” Inilah peran pendidikan tinggi pertanian yang diarahkan Presiden Sukarno untuk ketahanan pangan nasional kala itu. Pendidikan tinggi pertanian menjadi tempat untuk melahirkan sumber daya penggiat usaha pertanian yang akan bekerja, misalnya, sebagai penyuluh. Peran penyuluh ini penting mengingat inovasi pangan memerlukan agen yang mampu membimbing para petani menerapkan inovasi tersebut di lapangan. Presiden Sukarno menjelaskan hal ini dengan contoh padi:
“Jenis padi yang memuaskan di suatu daerah, belum tentu memuaskan bila ditanam di suatu daerah yang lain. Jenis padi harus di-”perdaerahkan” lebih dulu. Perlulah lebih dulu didirikan balai-balai seleksi daerah di berpuluh-puluh tempat. Dan disamping pusat-pusat penyelidikan daerah itu, maka haruslah pula diadakan organisasi untuk menyebarkan hasil-hasil dari pusat-pusat penyelidikan daerah itu langsung kepada petani-petani. Dibutuhkanlah pusat-pusat bibit setempat, – zaadhoeve-zaadhoeve – yang masing-masing meliputi keluasan 10.000 ha atau 15.000 ha sawah. Petani-petani harus dibangunkan perhatiannya oleh pusat-pusat ini, harus diinsafkan, di-“semangatkan.” Dengan propaganda, dengan penyuluh, dengan demonstrasi, petani-petani harus dilepaskan dari jenis-jenis padi jang kurang manfaat, dibawa kepada jenis-jenis baru yang lebih baik.”

Meskipun demikian, Presiden Sukarno mengatakan bahwa menggiatkan usaha pertanian bukanlah sebuah solusi akhir, bukan menjadi “‘way out’ mutlak untuk menyelamatkan rakyat Indonesia dari bahaya kelaparan.” Presiden menekankan bahwa harus juga ditempuh jalan lain yaitu dengan melakukan inovasi pertanian. Contoh yang Presiden angkat adalah kemungkinan untuk mengembangkan pertanian tanah kering atau ladang di Indonesia. Dalam hal ini, Presiden memberikan mandat bahwa pendidikan tinggi pertanian harus menjadi lembaga yang melahirkan para pelopor inovasi pertanian. Presiden mengambil inspirasi dari Negeri Belanda yang berhasil melakukan inovasi melalui pengembangan teknik pertanian. Seperti Presiden Sukarno sampaikan:
“Dapatkah tanah kering menjadi sumber kemanfaatan? Dapat, pemuda-pemudiku, dapat! Asal kita, terutama sekali kamu, generasi muda, suka ‘aanpakken’ soal ini dengan tepat, maka kita tak perlu berkecil hati! Kemungkinan dalam teknik dan ilmu pertanian kan telah besar sekali! Tiga puluh tahun yang lalu, Provinsi Noord Brabant dan Veluwe di Negeri Belanda yang tanahnya tanah pasir yang amat miskin itu, hanyalah dapat menghasilkan sedikit boekweit dan kentang dan rogge. Hanya biri-biri kurus saja diternakkan di sana dalam jumlah yang kecil-kecil. Sekarang, berkat teknik pertanian, tanahnya tak kurang suburnya. Semua tanaman dapat dihasilkan di situ, bunga-bunga yang indah menyegarkan mata, sapi-sapi yang segemuk sapi Friesland terdapat di sana dalam jumlah yang besar-besar. […] Mengapa kita di Indonesia tidak nanti dapat bertindak sedemikian juga? Kita dapat bertindak sedemikian juga, – dapat, dan aku tidak ragu-ragu akan hal itu –, asal kamu, generasi muda, suka bertindak. Asal kamu suka belajar, asal kamu nanti suka menjadi pelopor.”
Di bagian akhir pidatonya, Presiden Sukarno kembali mengingatkan tentang arti penting untuk mencukupi dan menambah persediaan makanan dengan mengangkat masalah kelaparan yang tengah terjadi kala itu. Atas dasar ini, Presiden menyerukan agar harus dilakukan upaya meningkatkan “kader bangsa terutama di lapangan pertanian dan peternakan.” Hal ini penting untuk dilakukan demi mendukung ketahanan pangan karena “soal persediaan makanan rakyat ini bagi kita adalah soal hidup atau mati.”

Setelah dua jam membacakan pidato “Soal Hidup atau Mati,” Presiden Sukarno kemudian melaksanakan prosesi peletakan batu pertama. Pada malam harinya, setelah rangkaian seremoni di Kampus Baranangsiang terlaksana sepenuhnya, Presiden mengadakan pertemuan ramah tamah dengan sivitas Fakultas Pertanian di Istana Bogor. Momen ini kembali menandai perhatian besar Presiden Sukarno terhadap dunia pendidikan tinggi pertanian.
Pada akhirnya, apa yang disampaikan Presiden Sukarno tentang “Soal Hidup atau Mati” ini bukanlah sekadar sebuah pidato tanpa makna. Lebih dari itu, pidato ini “mengandung makna, nilai-nilai, patriotisme, dan pesan-pesan pembangunan yang oleh karena itu seyogianya setiap unsur IPB dapat memaknai pidato tersebut,” seperti disebutkan Syafrida Manuwoto dkk (2017: 111). Seperti disampaikan dalam pidatonya, Presiden Sukarno memandatkan setidaknya dua hal bagi dunia pendidikan tinggi pertanian Indonesia: pertama, melahirkan sumber daya penggiat usaha pertanian dan kedua, melahirkan pelopor inovasi pertanian. Dua mandat ini menjadi refleksi atas eksistensi IPB yang saat ini telah genap mencapai usia 63 tahun.
Referensi
Arsip Nasional Republik Indonesia, Arsip Film Pusat Produksi Film Negara (PPFN): Seri Gelora Indonesia 1951-1976, FL.1.C 137 DVD-RK/2010, GI.69, Pembangunan Fakultas Pertanian, Universitas Indonesia di Bogor (Cikal Bakal Institut Pertanian Bogor), 1952.
Manuwoto, Syafrida, Agustin Wydia Gunawan, Lina Kristina Dewi, Syafitri Hidayati, Busaid. 2017. Sejarah Perjalanan Institut Pertanian Bogor Sebagai Lembaga Pendidikan Tinggi Pertanian, 1963-2017. Buku I: Pertumbuhan Dan Perkembangan IPB. Bogor: IPB Press.
Sukarno. 1953. “Soal Hidup atau Mati.” Dalam Almanak Pertanian 1953. Djakarta: Badan Usaha Penerbit Almanak Pertanian, hlm. 11-20.
Rahman C. Adiatma, Staf edukator Museum dan Galeri IPB Future