Burung-burung di Pohon Karet IPB Darmaga: Catatan Penelitian Dr. Yeni Aryati Mulyani Tahun 1985
Burung-burung di Pohon Karet IPB Darmaga: Catatan Penelitian Dr. Yeni Aryati Mulyani Tahun 1985
Per bulan Mei 2026 ini, Dr. Ir. Yeni Aryati Mulyani M.Sc. memasuki masa purnatugasnya sebagai pengajar di Fakultas Kehutanan dan Lingkungan Institut Pertanian Bogor (IPB). Ibu Yeni, begitu panggilan akrab beliau, selama ini aktif melakukan penelitian tentang konservasi dan ekologi burung. Hal ini bahkan telah dilakukan sejak Ibu Yeni menulis skripsi pada tahun 1985 dengan judul “Studi Keanekaragaman Jenis Burung di Lingkungan Kampus IPB Darmaga.”
Melalui skripsi Beliau, Ibu Yeni ingin mencari tahu tentang apa saja jenis burung yang terdapat di Kampus IPB Darmaga kala itu. Selain itu, skripsi ini juga coba menerangkan fungsi vegetasi yang ada di Darmaga bagi kelangsungan hidup para burung. Hal ini dilakukan Ibu Yeni dengan berfokus pada tiga habitat IPB Darmaga yaitu area perkebunan karet, Arboretum Fakultas Kehutanan, dan area tegakan pinus di wilayah Cangkurawok.
Ibu Yeni menerangkan bahwa dari ketiga habitat tersebut perkebunan karet menjadi yang paling dominan. “Sebagian besar areal di Kampus IPB Darmaga ditanami dengan pohon karet (Hevea brasiliensis Muell. Arg.),” sebut beliau (Mulyani 1985: 20). Beliau kemudian memberikan keterangan rinci tentang luas dan aktivitas manusia yang biasa dilakukan di perkebunan karet tersebut. Dalam perhitungan Ibu Yeni, perkebunan karet di mana penelitian ini dilakukan memiliki luas 78,78 hektar. Sementara itu, penyadapan karet menjadi aktivitas manusia satu-satunya di area ini. Hal ini menunjukkan bahwa riwayat karet tidak berhenti sejak pertama kali tumbuhan ini ditanam puluhan tahun sebelumnya di tempat yang pada 1980-an bertranformasi menjadi IPB Darmaga.

Selain pohonnya sendiri, perkebunan karet yang dijadikan Ibu Yeni sebagai tempat penelitian juga memiliki vegetasi lain (Mulyani 1985: 36). Untuk tumbuhan bawah, rumput menjadi sangat dominan terutama jenis-jenis Ottochloa nodosa, Paspalum conjugatum, Panicum trichoides, dan Axonopus compressus. Sementara itu, tumbuhan non-karet yang ada di area ini meliputi Merremia binectarifera dan Tetracera indica serta jenis-jenis semak termasuk Melastoma malabathricum, Lantana camara, dan Tetracera indica.
Ibu Yeni menekankan bahwa keadaan habitat perkebunan karet IPB Darmaga tahun 1980-an tersebut sangat menentukan keanekaragaman dan aktivitas burung. Seperti dituliskan oleh beliau (Mulyani 1985: 73):
“Banyaknya jenis burung yang ada di areal penelitian dipengaruhi oleh kelengkapan komponen habitat dari areal tersebut. Jenis pohon, jenis semak, rumput dan tumbuhan bawah lainnya, ketersediaan makanan dan air serta ada tidaknya gangguan dari luar mempengaruhi banyak jenis burung yang ada di lokasi penelitian.”
Berangkat dari hal tersebut, tidaklah mengherankan apabila keadaan habitat perkebunan karet IPB Darmaga mendorong keanekaragaman burung (Mulyani 1985: 37-38). Ibu Yeni menjelaskan bahwa total terdapat 35 jenis burung yang eksis dan berhasil dicatatnya di area perkebunan karet IPB Darmaga. Dari total tersebut, terdapat beberapa jenis burung yang sering hadir yaitu Pelatuk (Dendrocopos m. moluccensis), Pelatuk terasi (Dendrocopos macei analis), Burung cabe (Dicaeum t. trochileum), Kutilang (Pycnonotus aurigaster), Ciit (Nectarinia jugularis pectoralis), Burung sepah (Pericrocotus cinnamomeus saturatus), dan Betet (Psittacula a. alexandri).
Selain itu, keragaman juga terjadi dalam hal aktivitas yang burung-burung tersebut lakukan. Seperti dicatat oleh Ibu Yeni, aktivitas utama para burung di perkebunan karet IPB Darmaga meliputi beristirahat, berkicau, makan, bermain, berjemur, dan tidur (Mulyani 1985: 63-64). Untuk makanan, sebagian besar burung yang ada di area ini biasa memakan serangga dan ulat. Sedangkan, untuk tempat beraktivitas para burung terutama memanfaatkan semak dan tanah, selain pohon karet itu sendiri.

Dalam skripsi Beliau, Ibu Yeni memberikan deskripsi tambahan dari aktivitas yang dilakukan oleh jenis burung Pelatuk dan Pelatuk terasi (Mulyani 1985: 68). Beliau menyebut bahwa kedua burung tersebut merupakan jenis pemanjat pohon famili Picidae. Oleh karenanya, aktivitas yang terutama mereka lakukan adalah makan dan mencari makan di batang serta cabang pohon-pohon karet. Adapun makanan yang terutama mereka santap adalah serangga pengebor kayu.

Jenis burung Bentet (Lanius schach bentet) juga dideskripsilan lebih lanjut dalam skripsi ini (Mulyani 1985: 68). Ibu Yeni menguraikan bahwa Bentet hanya dapat dijumpai di area perkebunan karet ketika penelitian dilakukan. Pohon karet utamanya dijadikan Bentet sebagai tempat beristirahat. Terkait makanan, burung ini adalah pemakan serangga dengan mencarinya di semak-semak dan tanah.
Dari skripsi ini, Ibu Yeni menunjukkan bahwa area perkebunan karet di IPB Darmaga memiliki peran penting bagi hidup para burung pada tahun 1980-an. Hal ini didukung lebih lanjut oleh penjelasan ornitolog Bas van Balen (1999: 42) bahwa area karet IPB Darmaga merupakan salah satu habitat penting dari spesies burung dengan kelas woodland birds di Jawa. Saat ini, peran penting tersebut masih dipegang IPB Darmaga karena terus eksisnya area-area yang dipenuhi pohon karet dengan beragam burung yang hidup di sekitarnya (Mustari 2020: 23).
Pada akhirnya, karet dan burung yang ada di IPB Darmaga bukanlah sekadar kumpulan pohon dan satwa. Alih-alih, keduanya juga merupakan “fenomena historis,” mengutip istilah sejarawan lingkungan Peter Boomgaard (1997: 15), yang turut hadir di dalam sejarah kawasan Darmaga. Karet dan burung tidak tiba-tiba hadir di Darmaga hari ini. Keduanya telah ada sejak Ibu Yeni melakukan penelitian skripsi pada tahun 1985 dan bahkan waktu-waktu sebelumnya.
Referensi
Boomgaard, Peter. 1997. “Introducing Environmental Histories of Indonesia.” Dalam Peter Boomgaard, Freek Colombijn, David Henley, eds., Paper Landscapes: Explorations in the Environmental History of Indonesia. Leiden: KITLV Press, hlm. 1-26.
Mulyani, Yeni Aryati. 1985. “Studi Keanekaragaman Jenis Burung di Lingkungan Kampus IPB Darmaga.” Skripsi. Institut Pertanian Bogor.
Mustari, Abdul Haris. 2020. Biodiversitas di Kampus IPB University: Mamalia, Burung, Amfibi, Reptil, Kupu-kupu dan Tumbuhan. Bogor: IPB Press.
Van Balen, Bas. 1999. “Birds on Fragmented Islands: Persistence in the Forests of Java and Bali.” Disertasi PhD. Wageningen Universiteit.
Rahman C. Adiatma, Staf edukator Museum dan Galeri IPB Future