Walet Jari Tiga: Riset Awal Penting dari Soekarja Somadikarta, Bapak Ornitologi Indonesia
Walet Jari Tiga: Riset Awal Penting dari Soekarja Somadikarta, Bapak Ornitologi Indonesia
Burung walet pada umumnya diketahui memiliki jari yang berjumlah empat. Akan tetapi, terdapat satu jenis dengan klasifikasi genus Aerodamus papuensis (sebelumnya terkenal sebagai Collocalia papuensis) yang menjadi “satu-satunya burung walet yang memiliki tiga jari” (Tarburton 2018: 126). Seperti namanya, walet Collocia papuensis ini memang endemik Papua. Bruce Beehler dan Thane Pratt dalam kitab taksonomi burung-burung Wilayah Papua berjudul Birds of New Guinea: Distribution, Taxonomy, and Systematics (2016 : 159), memberikan catatan bahwa walet jari tiga tersebut pada awalnya dikategorikan sebagai Collocalia whiteheadi, yaitu walet berjari empat. Keduanya mengutip riset seorang ornitolog Indonesia bernama Soekarja Somadikarta sebagai pionir yang memisahkan populasi walet tersebut ke dalam kelompok yang bukan berjari empat. Walet jari tiga adalah sebuah temuan penting untuk taksonomi burung Papua dari ornitolog Indonesia tersebut. Tak mengherankan apabila Profesor Somadikarta, sapaan akrabnya saat ini, menjadi “seorang spesialis terkemuka dunia tentang burung walet” (Koon, Cranbrook 2002: 156).
Meskipun Profesor Somadikarta kini lebih dikenal sebagai guru besar emeritus Universitas Indonesia (UI), ia tak dapat dipisahkan dari Institut Pertanian Bogor (IPB). Riwayat awal dirinya dalam menempuh jalan akademik menjelaskan hal itu (Manuwoto, Somadikarta 2017: 508). Ia merupakan bagian dari kampus UI di Bogor, yaitu cikal bakal IPB, selama dasawarsa 1950-an hingga awal 1960-an. Mula-mula Profesor Somadikarta bergabung ke UI di Bogor sebagai asisten Lembaga Penyakit Menular Fakultas Kedokteran Hewan. Setelah meraih gelar doctor rerum naturalium dari Freie Universität Berlin pada 1959, ia kemudian kembali ke UI di Bogor sebagai lektor dalam mata kuliah zoologi bagi mahasiswa tingkat persiapan Fakultas Pertanian & Kehutanan dan Fakultas Kedokteran & Peternakan.

Perhatian Profesor Somadikarta pada bidang ornitologi, yaitu ilmu pengetahuan tentang burung, baru muncul ketika ia mulai menjabat sebagai Kepala Museum Zoologicum Bogoriense tahun 1962 (Karim 2011). Ketika itu, diadakan program tugas belajar yang harus diikuti para peneliti museum dan Profesor Somadikarta memilih ornitologi dari sekian bidang yang ditawarkan. Sejak titik ini, riset-riset Profesor Somadikarta kemudian berfokus pada ornitologi dengan spesialisasi bidang taksonomi, yaitu tata penglasifikasian ragam jenis burung.
Studi literatur tentang riwayat Collocalia di Papua menuntun Profesor Somadikarta untuk menggeluti taksonomi burung walet. Riset awalnya, yang dipublikasi dalam Proceedings of the United States National Museum, menunjukkan pembacaan dirinya atas literatur terdahulu tentang taksonomi burung-burung Wilayah Papua yang ditulis para ornitolog dunia yaitu William Ogilvie-Grant, Walter Rothschild, Ernst Hartert, Austin Rand, Ernst Mayr, Ernest Gilliard, Tom Iredale, dan Finn Salomonsen (Somadikarta 1967: 2-3). Ia menarik kesimpulan terkait taksonomi walet dari studi literatur tersebut seperti berikut:
“Selama penelitian tentang genus burung walet Collocalia, saya memerhatikan bahwa daerah sebaran spesies Collocalia whiteheadi yang dipahami saat ini [pada tahun 1960-an] adalah tidak berkesinambungan dan salah satu populasi [dari jenis ini], Collocalia whiteheadi papuensis, secara umum dianggap sebagai bagian dari spesies tersebut” (Somadikarta 1967: 1).

Profesor Somadikarta kemudian mengutarakan kritik terhadap para ornitolog terdahulu di atas. Menurutnya, riset taksonomi yang sebelumnya dilakukan meluputkan karakter penting dari Collocalia whiteheadi papuensis, yaitu kenyataan bahwa jari yang dimiliki mereka adalah berjumlah tiga. Ia membangun argumen kritik itu berdasarkan pemeriksaan yang dilakukannya atas koleksi Collocalia whiteheadi papuensis dari American Museum of Natural History dan Museum Zoologicum Bogoriense. Seperti diungkapkan Profesor Somadikarta:
“Semua penulis terdahulu yang membahas Collocalia whiteheadi papuensis telah mengabaikan satu karakter yang sangat penting. Spesimen tipe dan paratipe (yang diperiksa di American Museum of Natural History dan Museum Zoologicum Bogoriense) dari Hollandia [Papua Barat] dan daerah Sungai Idenburg memiliki tiga jari alih-alih empat. Saya yakin burung jari tiga [itu] mewakili spesies yang terpisah” (Somadikarta 1967: 4).
Metode taksonomi yang dilakukan Profesor Somadikarta dalam riset walet jari tiga ini sebenarnya cukup sederhana (Karim 2011; Affan 2011). Ia melakukannya secara konvensional, yaitu menglasifikasi jenis burung sekadar berdasarkan ciri fisik yang dapat dilihat. Dalam prakteknya, ia juga hanya mendatangi museum-museum tempat di mana jasad burung-burung telah tersedia. Dalam keterangan rincinya, Profesor Somadikarta mendeskripsikan 13 spesimen walet dari Hollandia dan Bernhard Camp [Sungai Idenburg], yang diperiksanya di dua museum sebagaimana disebut sebelumnya di atas, seperti berikut:
“Hollandia: 1 ♀, 11 Juli 1938; Bernhard Camp, 50 m: 7 ♂♂ dan 2 ♀♀, 23 Maret-3 Mei 1939; Bernhard Camp, 850 m: 1 ♂, 9 April 1939; 15 km barat daya Bernhard Camp, 1800 m: 1 ♂ dan 1 ♀, 20 Januari 1939” (Somadikarta 1967: 4).

Adapun Profesor Somadikarta juga mendeskripsikan karakteristik spesifik dari walet jari tiga yang ditelitinya seperti berikut:
“Tiga jari (tanpa haluks) alih-alih empat, ciri khas yang unik dalam genus ini. Tarsus ditutupi bulu secara padat. Bagian atas berwarna cokelat gelap kecokelatan, sedikit berkilau, mahkota dan punggung memiliki bulu putih tersembunyi; bulu di sekitar leher lebih pucat daripada punggung dan mahkota, pangkal bulu membentuk bintik supraloral, berwarna abu-abu kecokelatan terang yang kontras dengan batang dan ujung bulu yang hitam, tenggorokan berwarna abu-abu perak, perut berwarna cokelat keabu-abuan, batang bulu yang gelap menonjol pada bulu perut dan penutup ekor bawah, bulu primer kesepuluh lebih pendek daripada yang kedelapan” (Somadikarta 1967: 5).
Dalam sejarah ilmu pengetahuan, riset avifauna Wilayah Papua telah memiliki tradisi yang panjang sejak pertengahan abad 19 (Beehler dkk 1986: 12-14). Riset walet jari tiga Collocalia papuensis yang dilakukan Profesor Somadikarta ini adalah torehan penting dalam sejarah ilmu pengetahuan itu. Tidaklah mengherankan apabila Profesor Somadikarta belakangan diberikan penghargaan sebagai Bapak Ornitologi Indonesia. Gelar itu diberikan kepadanya oleh Konferensi Nasional Peneliti dan Pemerhati Burung Indonesia 2015, sebuah pertemuan kalangan ornitolog negeri ini yang diselenggarakan lebih dari sepuluh tahun lalu di Fakultas Kehutanan IPB (Somadikarta 2015: 45).
Referensi
Affan, Heyder. 2011. “Profesor Soma, Totalitas Ahli Burung Kelas Dunia.” bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2011/12/111217_tokohsomadikarta (Diakses 4 Februari 2026).
Beehler, Bruce M., Thane K. Pratt. 2016. Birds of New Guinea: Distribution, Taxonomy, and Systematics. Princeton: Princeton University Press.
Beehler, Bruce M., Thane K. Pratt, Dale A. Zimmerman. 1986. Birds of New Guinea. Princeton: Princeton University Press.
Karim, Mulyawan. 2011. “Profesor Burung Bermata Elang.” nasional.kompas.com/read/2011/11/26/02463837/profesor.burung.bermata.elang?page=all (Diakses 4 Februari 2026).
Koon, Lim Chan, Earl of Cranbrook. 2002. Swiftlets of Borneo: Builders of Edible Nests. Kota Kinabalu: Natural History Publications (Borneo).
Manuwoto, Syafrida, Soekarja Somadikarta. 2017. Sejarah Kelahiran Institut Pertanian Bogor: Lembaga Pendidikan Tinggi Ilmu-ilmu Pertanian Tertua di Indonesia. Bogor: IPB Press.
Somadikarta, Soekarja. 1967. “A Recharacterization of Collocalia papuensis Rand, the Three-toed Swiftlet.” Proceedings of the United States National Museum, Vol. 124, No. 3629, hlm. 1-8.
Somadikarta, Soekarja. 2015. S. Somadikarta pada Usia 85 Tahun. Jakarta: UI-Press.
Tarburton, Michael. 2018. “Difficulties Identifying Three-toed Swiftlets Aerodramus papuensis in New Guinea.” Australian Field Ornithology, Vol. 35, hlm. 126-28.
Rahman C. Adiatma, Staf edukator Museum dan Galeri IPB Future