SEARCA dan Kiprah IPB di Panggung Pertanian Asia Tenggara

SEARCA dan Kiprah IPB di Panggung Pertanian Asia Tenggara

SEARCA dan Kiprah IPB di Panggung Pertanian Asia Tenggara

Dinamika pendidikan tinggi pertanian di Asia Tenggara mencatat momentum krusial pada pertemuan Southeast Asian Ministers of Education Secretariat (SEAMES) di Manila. Pada pertengahan dekade 1960-an, SEAMES mengadakan forum strategis. Prof. Dr. Toyib Hadiwijaya, selaku Rektor IPB dan Ketua Dewan Eksekutif SEAMEC Indonesia, hadir dengan visi strategis yaitu mengajukan Institut Pertanian Bogor (IPB) sebagai pusat penelitian pertanian utama di kawasan Asia Tenggara.

Optimisme tersebut didukung oleh data historis yang kuat. Indonesia memiliki infrastruktur riset pertanian yang mapan sejak era kolonial, mencakup pusat penelitian karet di Bogor, palawija di Muara, hortikultura di Cipanas, padi di Subang, coklat di Jember, dan kelapa di Malang. Modal ilmiah ini dinilai cukup untuk menopang mandat sebagai pusat rujukan regional.

Namun, berdasarkan pertimbangan kesiapan ekosistem riset, keputusan forum berpihak pada Filipina. Keberadaan International Rice Research Institute (IRRI) dan program pascasarjana yang terintegrasi di University of the Philippines Los Baños (UPLB) menjadi faktor penentu. Hasilnya, pada tanggal 27 November 1966, Southeast Asian Regional Center for Graduate Study and Research in Agriculture (SEARCA) resmi didirikan di Filipina.

Dinamika ini pada akhirnya melahirkan kemitraan strategis, bukan persaingan. Meskipun tidak terpilih sebagai tuan rumah utama, IPB mengambil peran signifikan sebagai mitra kunci SEARCA. Keputusan ini meletakkan dasar bagi kolaborasi akademik yang produktif. Hal ini terbukti mampu memperkuat sektor pertanian Asia Tenggara selama enam dekade terakhir.

Momentum transformasi terbesar terjadi pada akhir 1980-an. Menyadari bahwa laju populasi dan kebutuhan teknologi tak lagi bisa ditangani secara parsial, para pemimpin akademis menginisiasi terobosan baru. Pada 19 September 1989, University Consortium (UC) resmi berdiri dengan lima anggota pendiri: IPB, UGM, UPM (Malaysia), UPLB (Filipina), dan Kasetsart University (Thailand).

SEARCA dan kiprah IPB
Gambar 1. Peluncuran University Consortium pada tanggal 19 September 1989 (Sumber: uc.searca.org)

Semangat utama UC adalah berbagai sumber daya.  Konsorsium ini mendobrak sekat birokrasi yang kaku. Melaluinya, mahasiswa Indonesia dapat mempelajari irigasi di Thailand, sementara peneliti Filipina dapat mengakses laboratorium di Malaysia. Sinergi ini memastikan arus pengetahuan di Asia Tenggara mengalir bebas, merata, dan saling menguatkan.

Dinamika kerja sama IPB dan SEARCA tidak bersifat statis, melainkan mengalami evolusi yang progresif seiring dengan perubahan kebutuhan zaman. Pada fase awal, fokus utama tertuju pada program konvensional seperti beasiswa pascasarjana (graduate scholarship) dan pelatihan jangka pendek. Namun, pembentukan University Consortium (UC) membawa paradigma baru dalam implementasi program, yakni pergeseran dari bantuan satu arah menjadi pertukaran dua arah yang lebih egaliter.

Jenis program mengalami diversifikasi yang signifikan. IPB tidak hanya mengirimkan stafnya untuk studi lanjut, tetapi juga terlibat aktif dalam program mobilitas akademik tingkat lanjut, seperti Pertukaran Pelajar, Faculty Visits, dan Research Fellowship. Program-program ini dirancang untuk memunculkan ide-ide baru lewat pertukaran pikiran antarpeneliti ASEAN.

Tahun 1997 menjadi tonggak sejarah penting bagi IPB. Untuk pertama kalinya, SEARCA memberikan mandat kepada IPB (bekerja sama dengan BIOTROP) untuk menjadi tuan rumah penyelenggaraan pendidikan pascasarjana internasional dalam bidang Teknologi Informasi untuk Manajemen Sumber Daya Alam. Pascasarjana IPB membuktikan kapasitasnya dalam mengelola program pendidikan bertaraf internasional, sekaligus menandai transisi IPB dari sekadar “penerima manfaat” menjadi “pusat rujukan”.

IPB juga aktif dalam berbagai program strategis lain. Salah satunya adalah peluncuran Regional Volunteer Experts for Agricultural Modernization (REVEAM) pada tahun 2000. IPB bertindak sebagai tuan rumah setahun kemudian. Peran IPB semakin kuat lewat berbagai forum penting. Contohnya adalah menjadi tuan rumah Pertemuan Dekan UC ke-6 (1993) dan pelatihan administrator AHEAD (2002).

Evaluasi terhadap keberhasilan kerja sama IPB-SEARCA tidak cukup hanya dilihat dari deretan statistik administratif, melainkan harus ditinjau dari dampak kualitatif terhadap pengembangan kualitas manusianya. Hingga tahun 2013, tercatat sebanyak 43 staf pengajar IPB telah berhasil menyelesaikan studi Magister dan Doktor melalui skema beasiswa penuh SEARCA. Angka ini merepresentasikan investasi jangka panjang yang krusial bagi pengembangan institusi.

SEARCA dan kiprah IPB
Grafik 1. Distribusi Penerima Beasiswa SEARCA per Fakultas tahun 1971-2013 (Buku Sejarah IPB, 2017)

Dampaknya terlihat jelas dari perjalanan karir para alumni. Kompetensi yang diperoleh selama masa studi di luar negeri telah menciptakan dampak besar saat mereka kembali ke tanah air. Para alumni IPB-SEARCA terbukti mampu mengisi kekosongan kepemimpinan strategis (strategic leadership gap), tidak hanya di lingkungan akademik, tetapi juga di sektor publik dan pemerintahan.

Bukti empiris dari keberhasilan ini termanifestasi dalam rekam jejak para alumni. Di sektor pendidikan tinggi, figur seperti Prof. Dr. Ir. Soedarmadi, M.Sc. (Rektor Universitas Jambi) dan Prof. Dr. Sugeng P. Harianto, M.Sc. (Rektor Universitas Lampung) membuktikan bahwa kaderisasi kepemimpinan berjalan efektif. Di level kebijakan publik dan korporasi negara, peran Prof. Dr. Ir. Bunasor Sanim, M.Sc. yang menjabat sebagai Komisaris Utama BRI selama dua periode, menunjukkan bahwa wawasan manajerial yang ditempa melalui pendidikan global relevan untuk sektor perbankan nasional. Sementara itu, kepemimpinan Dr. Lailan Syaufina, M.Sc. sebagai Direktur Pusat Penelitian Kelapa Sawit (IOPRI) menegaskan kontribusi alumni dalam mengawal komoditas strategis nasional.

Fenomena ini mengonfirmasi bahwa program SEARCA berfungsi sebagai inkubator kepemimpinan yang efektif. Pengetahuan teknis dan jejaring internasional yang dibawa pulang oleh para alumni telah bertransformasi menjadi kebijakan, inovasi riset, dan tata kelola institusi yang lebih modern, yang pada akhirnya memperkuat posisi tawar pertanian Indonesia di kancah global.

Perjalanan kemitraan strategis antara IPB dan SEARCA selama lebih dari setengah abad menawarkan sebuah tesis penting dalam diplomasi pendidikan: bahwa kemajuan sains tidak mengenal batas geopolitik. Keputusan historis tahun 1966, yang menempatkan IPB bukan sebagai tuan rumah tunggal melainkan mitra kolaboratif, pada akhirnya terbukti sebagai katalisator yang memperkuat posisi tawar institusi di kancah regional.

Melalui mekanisme University Consortium, IPB berhasil membuktikan bahwa filosofi resource sharing adalah solusi paling rasional untuk mengatasi keterbatasan sumber daya riset di negara berkembang. Kemitraan ini telah membuka akses yang sebelumnya sulit dijangkau secara unilateral. Sinergi ini memungkinkan arus pengetahuan mengalir deras, mentransformasi wawasan akademik dari yang semula bersifat lokal (inward looking) menjadi berorientasi global (outward looking).

Melihat tantangan masa depan berupa isu ketahanan pangan, perubahan iklim, dan bioteknologi yang semakin kompleks, peran jejaring yang telah dibangun IPB dan SEARCA menjadi semakin penting. Kolaborasi ini tidak lagi sekadar opsi, melainkan kebutuhan mendesak untuk menjaga stabilitas pangan kawasan.

Pada akhirnya, jejak langkah IPB dalam ekosistem SEARCA menegaskan bahwa kontribusi sebuah universitas tidak ditentukan oleh lokasi kantor pusat lembaga internasional, melainkan oleh kualitas sumber daya manusia dan kedalaman dampak yang dihasilkannya. IPB telah, dan akan terus, menanam benih ilmu pengetahuan yang buahnya dinikmati oleh masyarakat Asia Tenggara.

Referensi

Tallafer, Lily L. SEARCA’s First 50 Years: Pushing the Frontiers of Agricultural and Rural Development. Diedit oleh Leah Lyn D. Domingo. Los Baños, Laguna: Southeast Asian Regional Center for Graduate Study and Research in Agriculture (SEARCA), 2016.

Tim Penulis. Sejarah Perjalanan Institut Pertanian Bogor sebagai Lembaga Pendidikan Tinggi Pertanian 1963–2017: Kerja Sama IPB–Luar Negeri. Bogor: PT Penerbit IPB Press, 2017.

Irgiansyah D. Nugraha, Staf Edukator Museum dan Galeri IPB Future