Pionir Publisistik di IPB: Pers Mahasiswa “Almamater” pada 1970-an

Pionir Publisistik di IPB: Pers Mahasiswa “Almamater” pada 1970-an

Pionir Publisistik di IPB: Pers Mahasiswa “Almamater” pada 1970-an

Institut Pertanian Bogor (IPB) dikenal memiliki almunus yang berkiprah dalam berbagai macam bidang. Salah satu di antara sekian bidang itu adalah publisistik. Sejak dulu hingga kini, IPB telah melahirkan talenta-talenta penting industri pers nasional Indonesia. Misalnya adalah Uni Lubis, Pemimpin Redaksi IDN Times yang merupakan alumnus Fakultas Pertanian, dan Bagja Hidayat, Wakil Pemimpin Redaksi Tempo yang mana adalah alumnus Fakultas Kehutanan. Karena hal ini, tidaklah mengherankan jika IPB sering diasosiasikan oleh masyarakat umum sebagai Institut Publisistik Bogor.

Secara historis, pionir tradisi publisistik di antara kalangan mahasiswa IPB adalah sebuah koran atau tabloid dengan nama Almamater. Seperti diceritakan Indra Adil (2024: 600-601), Pemimpin Redaksi Almamater tahun 1977-1978, penerbitan Almamater pada dasawarsa 1970-an ini adalah sebuah kebanggaan bagi mahasiswa IPB. Sebab, kala itu hanya terdapat sedikit badan mahasiswa di kampus-kampus Indonesia yang mampu mengeluarkan produk publisistik semacam ini. Indra Adil mencirikan bahwa penerbitan Almamater “membutuhkan profesionalisme dalam pembuatannya yang melingkupi pengetikan yang sempurna, tata letak atau kerennya layout yang rumit, dan mesin cetak yang mutakhir.” David Hill (2007: 115-16), pakar kajian Asia Tenggara di Murdoch University, menyebut Almamater termasuk dalam jajaran pers mahasiswa yang saat itu tengah naik daun seperti Kampus (Institut Teknologi Bandung), Salemba (Universitas Indonesia), Gelora Mahasiswa (Universitas Gadjah Mada), dan Airlangga (Universitas Airlangga).

Almamater IPB
Gambar 1. Dokumentasi kegiatan pengurus Almamater IPB tahun 1970-an (Sumber: Hamzah 2024: 597)

Damhuri Hamzah (2024: 595), salah seorang pengurus awal Almamater, menjelaskan bahwa pers mahasiswa IPB ini pada mulanya merupakan sebuah organ yang ada di dalam Dewan Mahasiswa IPB (DM IPB). Ia menduga Almamater terbit pertama kali pada 1969-1970 saat periode kepengurusan Arifin Alimuddin. Seperti diceritakannya lebih lanjut, pada masa perintisan ini Almamater masih berbentuk buletin di mana konten yang ada di dalamnya masih cukup terbatas. Beberapa konten itu termasuk berita kegiatan DM IPB dan aktivitas yang dilakukan oleh civitas akademika IPB. Adapun secara lebih detail Indra Adil (2024: 601) menguraikan karakter Almamater ketika masa awal seperti berikut:

“[Mulanya] Almamater dicetak tanpa rutinitas yang jelas, mirip buletin bulanan yang terbit kadang satu bulan, bisa dua bulan, dan bahkan tiga bulan sekali, tergantung situasi dan kondisi dana dan berita. Dana didapat dari universitas yaitu melalui Biro Rektor di bawah kewenangan Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan. Bila dana tidak mencukupi, tidak tertutup [kemungkinan untuk bisa mendapatkan] perolehan dana dari pihak lain termasuk dari luar kampus melalui pemasangan iklan di koran.”

Peningkatan mutu mulai didorong ketika Damhuri Hamzah memimpin Almamater pada periode 1971-1972. Saat itu, ia merupakan Sekretaris Urusan Penerangan dan Publikasi DM IPB yang sekaligus menjadi penanggung jawab Almamater. Damhuri Hamzah (2024: 596-97) bercerita bahwa ketika dirinya memimpin, salah satu fokus Almamater adalah meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Hal itu dicapai dengan mengadakan pendidikan pers untuk para awak Almamater. Pendidikan pers ini diadakan melalui kerja sama dengan Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES), sebuah lembaga yang pada 1970-an menerbitkan jurnal ilmiah populer terkemuka bernama Prisma.

Diakui oleh Damhuri Hamzah bahwa pendidikan pers dengan LP3ES itu adalah “titik tolak dalam pengelolaan Almamater selanjutnya” (2024: 598). Hal itu ia buktikan dengan menjelaskan terjadinya beberapa perubahan sejak periode 1972-1973. Pada waktu ini, Almamater mengubah dirinya dari yang semula merupakan buletin menjadi tabloid. Struktur organisasi juga dikembangkan, di mana pos-pos baru mulai dibentuk seperti Pemimpin Usaha, Bagian Administrasi, dan lain sebagainya. Rapat secara reguler yang sebelumnya tak terjadi juga mulai dilakukan di antara para pengurus Almamater. Yang paling menonjol, Almamater mulai membuat berbagai rubrik baru seperti “Obrolan Bulan Ini” dan “Pojok Alma.”

Almamater terus berkembang pada tahun-tahun berikutnya (Hamzah 2024: 599; Adil 2024: 602). Periode kepengurusan 1974-1975 menandai perubahan terbesar di dalam tubuh pers mahasiswa IPB ini. Ketika itu, Almamater memisahkan diri dari struktur DM IPB dan berubah menjadi Badan Otonom di lingkungan IPB. Pendidikan pers atau pembinaan terhadap para wartawan Almamater juga digiatkan kembali pada periode 1975-1976 ketika Rusdian Lubis menjabat sebagai Pemimpin Redaksi. Saat itu, pendidikan pers diadakan melalui kerja sama dengan personil wartawan mahasiswa senior dari Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia (IPMI). Yang lainnya, peningkatan kualitas cetak dan pengembangan konten juga dilakukan pada periode 1976-1977 ketika tanggung jawab Pemimpin Redaksi dipegang oleh Albar Azier. Hal itu dilakukan dengan membuat fisik tabloid Almamater menjadi berwarna (full color) dan ditambahkannya aneka rubrik baru seperti keagamaan dan kesehatan.

Tonggak penting dari perkembangan Almamater terjadi di bawah Pemimpin Redaksi Indra Adil pada periode 1977-1978. Seperti dijelaskan Indra Adil sendiri (2024: 602), kala itu Almamater melakukan kegiatan di luar rutinitas penerbitan dengan mengadakan lomba foto nasional yang diikuti berbagai kalangan, termasuk para fotografer, dari penjuru Indonesia. Keseriusan dari acara lomba ini tidak main-main. Bertindak sebagai pemimpin dewan juri adalah Andi Hakim Nasution. Sementara itu, anggota dari dewan juri adalah para juru foto kawakan berbagai media massa seperti Tempo, Kompas, dan Sinar Harapan.

Kepemimpinan Indra Adil di Almamater berbarengan dengan mencuatnya gejolak politik nasional dan represi terhadap pers pada awal tahun 1978. Ini adalah waktu ketika mahasiswa melakukan protes terhadap pemerintahan Orde Baru dan media massa banyak yang diberedel akibat meliput hal itu (Sen, Hill 2000: 53). Herlambang Wiratraman (2014: 102), pakar hukum tata negara di Universitas Gadjah Mada, menjelaskan secara lebih rinci gejolak dan represi ini seperti berikut:

“Pada Januari 1978, langkah-langkah baru pelarangan pers, yang muncul setelah protes mahasiswa terhadap kebijakan pembangunan pemerintah dan keterlibatan investor asing, investor etnis Tionghoa, serta pejabat pemerintah, sekali lagi menunjukkan pembatasan ketat terhadap kebebasan pers. Kopkamtib menangkap 223 mahasiswa, membubarkan semua dewan mahasiswa berbagai universitas, dan melarang tujuh koran mahasiswa serta tujuh surat kabar terkemuka di Jakarta (Kompas, Merdeka, Sinar Harapan, Pelita, Pos Sore, Indonesia Times, dan Sinar Pagi).”

Di bawah Pemimpin Redaksi Indra Adil, Almamater tidak menarik diri dari situasi di atas. Alih-alih, Almamater justru bersolidaritas dengan perjuangan sesama mahasiswa hingga mendapat respons dari aparat (Adil 2024: 602-603). Saat tensi gejolak politik tengah memuncak, pers mahasiswa IPB ini memuat liputan tentang beragam aksi seperti pembentukan DPRS oleh aliansi mahasiswa UI, ITB, dan IPB. Liputan lainnya juga termasuk pemberitaan mengenai Buku Putih ITB, sebuah kumpulan kritik mahasiswa Indonesia yang diberbitkan Keluarga Mahasiswa ITB. Karena aktivisme ini, ruang kantor Almamater sempat didatangi oleh tentara. Bahan-bahan foto dan tulisan disita militer sehingga tidak bisa diterbitkan.

Indra Adil
Gambar 2. Penangkapan kembali Indra Adil seusai wisuda (Sumber: Adil 2024: 603)

Indra Adil sendiri pada akhirnya ditangkap dan dibawa ke tempat penahanan militer di Bandung. Selama di Bandung, Indra Adil (Adil 2024: 602-603) mengaku menjalani tahanan di dua tempat berbeda yaitu Rumah Tahanan Militer (RTM) Badan Pelaksana Intelijen dan RTM CPM. Namun, cerita paling fenomenal terjadi pada bulan Maret 1978 saat sang Pemimpin Redaksi Almamater ini berupaya kabur dari tahanan untuk dapat mengikuti acara wisuda. Ia berhasil meloloskan diri dan tiba di Bogor. Akan tetapi, Indra Adil yang tengah mengikuti wisuda terpaksa harus kembali ke Bandung karena dijemput oleh aparat yang hendak menangkap dirinya. Syafrida Manuwoto dkk (2024: 34) menceritakan hal ini dengan rinci seperti berikut:

“Pada suatu hari Jumat medio bulan Maret 1978, Rumah Tahanan Balak Intel Jalan Sumatera, Bandung ‘geger’ karena seorang tahanan Indra Adil kabur. Indra Adil terpaksa kabur karena sampai hari Jumat itu ‘izin untuk mengikuti wisuda’ tidak kunjung diperoleh. Karena bus sebagai sarana transportasi umum biasanya dirazia, Indra naik angkot sambung-menyambung dan akhirnya sampai ke Bogor. Indra langsung melapor ke rumah Rektor A. M. Satari. Acara wisuda diselenggarakan di Kampus Darmaga Bogor. CPM Bogor datang ke kampus Darmaga untuk menangkap kembali tahanan yang kabur. Atas izin Rektor IPB Prof. Dr. Ir. A. M. Satari, Indra Adil dibawa kembali ke Bandung, dimasukkan langsung ke RTM CPM di Jalan Jawa, Bandung.”

Almamater yang eksis pada dasawarsa 1970-an ini adalah pionir publisistik di IPB yang dilakukan oleh kalangan mahasiswanya sendiri. Para mahasiswa IPB punggawa Almamater itu merupakan “kaum modernis kelas menengah,” mengutip istilah Sony Karsono (2013: 315), sejarawan di Hankuk University of Foreign Studies. Mereka menjadi agensi yang mencoba untuk membangun masyarakat baru Indonesia dengan mendiseminasikan kesadaran tentang hak politik, kebebasan pers, keadilan sosial, dan lain sebagainya. Pada hari ini, IPB meneruskan upaya pembangunan masyarakat tersebut dengan kiprah penting para alumnusnya di dalam pers nasional Indonesia.

Referensi

Adil, Indra. 2024. “Koran Kampus Almamater.” Dalam Syafrida Manuwoto, Syafitri Hidayati, Rizky Amelia, Sejarah Perjalanan Institut Pertanian Bogor sebagai Lembaga Pendidikan Tinggi Pertanian, 1963-2018: Sejarah Kemahasiswaan IPB. Bogor: IPB Press, hlm. 600-603.

Hamzah, Damhuri. 2024. “Almamater dan Institut Publisistik Bogor.” Dalam Syafrida Manuwoto, Syafitri Hidayati, Rizky Amelia, Sejarah Perjalanan Institut Pertanian Bogor sebagai Lembaga Pendidikan Tinggi Pertanian, 1963-2018: Sejarah Kemahasiswaan IPB. Bogor: IPB Press, hlm. 595-600.

Hill, David T. 2007. The Press in New Order Indonesia. Jakarta: Equinox Publishing.

Karsono, Sony. 2013. “Indonesia’s New Order, 1966-1998: Its Social and Intellectual Origins.” Disertasi PhD. Ohio University.

Manuwoto, Syafrida, Syafitri Hidayati, Rizky Amelia. 2024. Sejarah Perjalanan Institut Pertanian Bogor sebagai Lembaga Pendidikan Tinggi Pertanian, 1963-2018: Sejarah Kemahasiswaan IPB. Bogor: IPB Press.

Sen, Krishna, David T. Hill. 2000. Media, Culture, and Politics in Indonesia. Oxford: Oxford University Press.

Wiratraman, Herlambang P. 2014. “Press Freedom, Law and Politics in Indonesia: A Socio-Legal Study.” Disertasi PhD. Universiteit Leiden.

Rahman C. Adiatma, Staf edukator Museum dan Galeri IPB Future