Mendokumentasi Keragaman Burung Kampus Darmaga: Riset Awal Bas van Balen pada 1980-an

Mendokumentasi Keragaman Burung Kampus Darmaga: Riset Awal Bas van Balen pada 1980-an

Mendokumentasi Keragaman Burung Kampus Darmaga: Riset Awal Bas van Balen pada 1980-an

Bas van Balen bukanlah nama asing dalam dunia ornitologi Indonesia. Ia dikenal telah menggeluti studi burung di negeri ini sejak masa awal merintis karier pada dasawarsa 1980-an. Ketika itu, Van Balen menulis tesis untuk meraih gelar MSc di Universiteit Utrecht dengan judul Comparison of Bird Counts and Bird Observation in the Neighbourhood of Bogor (Indonesia). Fokus penelitian tesis tentang burung di wilayah Bogor tersebut kemudian mendekatkan sosok ornitolog asal Belanda ini kepada Institut Pertanian Bogor (IPB). Seperti diakui Van Balen (1999: 181), ia bahkan sempat menjadi dosen tamu di IPB sejak tahun 1985 hingga 1987.

Bas van Balen
Gambar 1. Potret ornitolog Bas van Balen (Sumber: Academia/Bas van Balen)

Salah satu riset awal Van Balen di dalam riwayat penelitian yang dikerjakan olehnya juga menunjukkan kedekatan dengan IPB. Van Balen, bersama dengan para sivitas IPB yaitu Prof. Jarwadi Budi Hernowo, Dr. Yeni Aryati Mulyani, dan Ir. Haryanto Rahardjo Putro, menerbitkan riset bertajuk The Birds of Darmaga pada tahun 1986. Riset tersebut membahas keragaman burung yang ada di Kampus IPB Darmaga selama 1976 hingga 1986 dan diterbitkan oleh Media Konservasi, sebuah buletin akademik yang kala itu dikelola Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan, Fakultas Kehutanan IPB. Riset Van Balen bersama para sivitas IPB ini dilakukan berdasarkan penggabungan data penelusuran lapangan di Darmaga dengan kompilasi hasil penelitian terdahulu. “Laporan ini memberikan gambaran tentang kehidupan burung di Darmaga setelah sebelas tahun pengamatan, yang disusun berdasarkan studi Alikodra (1976), Putro (1982), dan Mulyani (1985) serta informasi yang diperoleh selama perjalanan singkat yang dilakukan oleh para penulis di wilayah tersebut pada tahun 1985 hingga 1986,” jelas Van Balen dkk (1986: 1).

Dalam riset keanekaragaman burung tersebut, Van Balen dkk (1986: 1-3) menjelaskan perihal keadaan vegetasi Darmaga yang memiliki konsekuensi bagi kekhasan spesies burung di kampus ini pada tahun 1976 hingga 1986. Kampus Darmaga memiliki luas kira-kira 260 hektare dengan vegetasi utama berupa pohon-pohon karet tua (Hevea brasiliensis) yang kemudian diikuti oleh aneka ragam semak. Beberapa area menunjukkan vegetasi khusus berupa hutan, baik hutan pinus maupun hutan sekunder, yang terutama berada di area Cangkurawok dan belakang masjid kampus. Van Balen dkk mencatat bahwa di area belakang masjid kampus juga tersebar semacam rawa kecil. Formasi vegetasi ini kemudian menciptakan kampus Darmaga sebagai habitat utama beberapa spesies burung yang tak dapat dijumpai di wilayah sekitar. “Empat spesies daerah sekitar yang hampir sepenuhnya hilang (Perkutut Jawa, Betet Biasa, Kapasan Kemiri, dan Anis Merah) masih tetap ada secara permanen di wilayah ini,” ungkap Van Balen dkk.

Vegetasi IPB
Gambar 2. Peta situasi IPB Darmaga tahun 1984 yang kurang lebih menggambarkan vegetasi kampus ini selama 1970-an hingga 1980-an (Sumber: Mulyani 2001: 11)

Van Balen dkk. (1986: 2-3) membuat daftar spesies burung yang ada di Kampus Darmaga selama 1976 hingga 1986 ke dalam empat kelompok kategori. Kelompok pertama adalah kategori burung pemangsa. Kelompok ini diisi oleh jenis spesies burung hantu seperti Serak Jawa (Tyto alba) dan Celupuk (Otus bakkamoena). Sedangkan, kelompok kedua diisi oleh kategori burung hutan yang antara lain meliputi spesies Murai Batu (Copsychus malabaricus) dan Sikatan Cacing (Cyornis banyumas). Sementara itu, burung-burung area hutan terbuka termasuk di dalam kelompok kategori yang ketiga. Di dalamnya termasuk spesies seperti Ayam Hutan Hijau (Gallus varius), Punai Gading (Treron vernans), Wiwik Lurik (Cacomantis sonneratii), dan Kedasi Hitam (Surniculus lugubris). Kelompok kategori terakhir yang dibuat Van Balen dkk adalah burung-burung area budidaya yang diisi antara lain oleh jenis-jenis seperti Perkutut Jawa (Geopelia striata), Kapasan Kemiri (Lalage nigra), Kekep Babi (Artamus leucorhynchus), dan Gelatik Jawa (Padda oryzivora). Adapun secara keseluruhan, Van Balen dkk. mendokumentasikan jumlah total sebanyak 68 spesies burung yang berhasil diamati di Kampus Darmaga antara tahun 1976 dan 1986 seperti terdaftar dalam Gambar 3 di bawah.

Biodiversitas IPB
Gambar 3. Daftar spesies burung yang diamati di kawasan kampus IPB Darmaga, 1976-1986 (Sumber: Van Balen dkk 1986: 4-5)

Melalui disertasi PhD yang ditulisnya, Van Balen (1999: 26) mengutarakan bahwa pada dasawarsa 1980-an ini sebenarnya tengah terjadi penurunan jumlah populasi burung di wilayah Bogor. Ia menjelaskan hal tersebut dengan membandingan jumlah spesies burung dataran rendah selama paruh pertama abad 20 dengan kenyataan populasi era 1980-an. Penyebab terjadinya penurunan kuantitas itu berpangkal pada deforestasi yang berlangsung di Jawa, dan juga Bali, sejak abad 16 sehingga vegetasi tempat habitat burung berada kian berkurang. Van Balen (1999: 169) menjelaskan:

“Penebangan hutan secara besar-besaran di Pulau Jawa dan Bali telah dimulai pada abad ke-16. Puncaknya terjadi pada akhir abad ke-19 setelah pengelolaan [agrikultur] yang intensif berlangsung selama empat dasawarsa di bawah Cultuurstelsel (sistem tanam paksa pada zaman penjajahan Belanda). Waktu itu, penutupan vegetasi di Jawa, yang terutama terdiri dari hutan hujan yang kaya, telah sangat dikurangi.”

Oleh karenanya, keragaman burung yang terdapat di IPB Darmaga menjadi begitu penting. Riset Van Balen dkk yang menunjukkan adanya total 68 jenis burung di Kampus Darmaga selama tahun 1976 hingga 1986 mencerminkan prosentase 40% dari keseluruhan jumlah spesies di Pulau Jawa kala itu (Kurnia 2003: 3). Pada hari ini, keragaman burung Kampus Darmaga semakin relevan untuk terus diperhatikan. Dalam catatan Abdul Haris Mustari, ahli ekologi mamalia IPB, per tahun 2025 setidaknya terdapat 112 spesies burung di Darmaga yang berhasil terdokumentasi (Mustari dkk 2025).

Biodiversitas IPB
Gambar 4. Potret spesies burung di IPB Darmaga yang terdokumentasi dalam riset Van Balen pada 1980-an dan hari ini masih ada: Cekakak Jawa, Halcyon cyanoventris (kiri) dan Kepudang Kuduk Hitam, Oriolus chinensis (kanan) (Sumber: Mustari dkk 2025: 8)

Beberapa puluh tahun lalu, Van Balen dkk (1986: 2) telah mengatakan: “banyak burung yang layak untuk mendapatkan perhatian khusus . . . mereka tampaknya telah menemukan tempat berlindung di Darmaga di mana kondisi habitat tertentu terpenuhi dan, selain itu, segala bentuk perburuan dilarang secara ketat.” Pernyataan ini sekali lagi menunjukkan arti penting IPB dalam keanekaragaman burung, terutama di wilayah Bogor. Pada akhirnya, seperti dijelaskan Fransisca Noni (2025), koordinator dari Burung Laut Indonesia, IPB Darmaga menjadi salah satu tempat terbaik untuk burung di antara sekian kawasan Bogor lainnya yang kini sebagian besar tengah mengalami pembangunan.

Referensi

Kurnia, Insan. 2003. “Studi Keanekaragaman Jenis Burung untuk Pengembangan Wisata Birdwatching di Kampus IPB Darmaga.” Skripsi. Institut Pertanian Bogor.

Mulyani. 2001. “Keragaman Jenis Burung di Kampus IPB Darmaga Bogor.” Skripsi. Institut Pertanian Bogor.

Mustari, Abdul Haris, Nyoto Santoso, Poppy Desita Sari Guna Wiyanda. 2025. “Biodiversity in Campus of IPB University.” IOP Conference Series: Earth and Environmental Science, Vol. 1506, hlm. 1-10.

Noni, Fransisca. 2025. “Burung-Burung Liar Berlindung di Kampus IPB Dramaga.” liputan6.com/regional/read/6029681/burung-burung-liar-berlindung-di-kampus-ipb-dramaga (Diakses 4 Maret 2026).

Van Balen, Bas. 1999. “Birds on Fragmented Islands: Persistence in the Forests of Java and Bali.” Disertasi PhD. Wageningen Universiteit.

Van Balen, Bas, Jarwadi Budi Hernowo, Yeni Aryati Mulyani, Haryanto Rahardjo Putro. 1986. “The Birds of Darmaga.” Media Konservasi, Vol. 1, No. 2, hlm. 1-5.

Rahman C. Adiatma, Staf edukator Museum dan Galeri IPB Future