Mengabdi untuk Pangan Negeri: Giat IPB dalam Penyuluhan Pertanian pada 1960-an

Mengabdi untuk Pangan Negeri: Giat IPB dalam Penyuluhan Pertanian pada 1960-an

Mengabdi untuk Pangan Negeri: Giat IPB dalam Penyuluhan Pertanian pada 1960-an

Kemerdekaan politik yang kita raih pada tahun 1945 ternyata tak sepenuhnya mengatasi tantangan yang muncul pada masa penjajahan. Seperti dituturkan dosen Departemen Agronomi Institut Pertanian Bogor (IPB) Ir. Djatijanto Kretosastro, M.Sc. kepada mahasiswanya. Indonesia pada awal dasawarsa 1960-an masih terjebak dalam persoalan pangan yang telah hadir sejak zaman Jepang. “Semenjak dijajah Jepang, Indonesia mengalami krisis pangan sampai sekarang (1963),” sebut Ir. Djatijanto (Ismachin 2017: 268). Tak mengherankan, Indonesia masih memiliki ketergantungan terhadap impor bahan pangan terutama beras selama 1950-an hingga awal 1960-an. Impor beras kita pada tahun 1958 terjadi di angka 921,000 ton dengan empat tahun setelahnya, yaitu tahun 1962, terjadi lonjakan menjadi sejumlah 1,011,000 ton (Roekasah, Penny 1967: 60).

Dengan demikian, IPB yang lahir pada tahun 1963 secara tak langsung memikul tanggung jawab untuk dapat mengatasi tantangan peningkatan produksi padi demi ketersediaan pangan beras. Melalui gagasan Ir. Djatijanto, pada tahun kelahirannya IPB langsung menginisiasi program penyuluhan pertanian bertajuk Pilot Proyek Panca Usaha Lengkap. Program tersebut digagas berdasarkan spirit sistem penyuluhan baru. Syafrida Manuwoto dan Soekarja Somadikarta mengungkapkan bahwa esensi dari spirit ini adalah penyuluhan pertanian oleh mahasiswa untuk praktik “panca usaha” petani. “Esensinya adalah penerapan panca usaha (varietas unggul, tandur jajar, pemupukan, pengairan, pengendalian hama dan penyakit) dengan teknik penyuluhan tertentu oleh mahasiswa tingkat akhir Fakultas Pertanian,” jelas keduanya (2017: 152-53). Di bawah kepemimpinan ketua tim Ir. Djatijanto, Pilot Proyek ini dilaksanakan melalui kerja sama dengan Lembaga Koordinasi Pengabdian Masyarakat Departemen Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (LKPM PTIP).

Penyuluhan pertanian
Gambar 1. Menteri PTIP Prof. Toyib Hadiwijaya memanen hasil Pilot Proyek Panca Usaha Lengkap di sawah petani, Rengasdengklok. Tepat di sebelah kanan beliau adalah Gubernur Jawa Barat Mayjen Mashudi. Ketiga dari kiri berkacamata hitam merupakan Rektor IPB Prof. Bachtiar Rifai (Sumber: Manuwoto, Somadikarta 2017: 153)

Pilot Proyek berlangsung selama musim tanam 1963/64 di sebagian lahan sawah tiga desa daerah Karawang yaitu Tanjungpura, Tunggakjati, dan Karawang Kulon. Achmad Saubari (2017: 262-263), salah satu mahasiswa IPB yang mengikuti Pilot Proyek ini, memberi keterangan tentang tanggung jawab tim penyuluhan. “Ditempatkan 4 orang mahasiswa tingkat sarjana, masing-masing mahasiswa bekerja bersama petani menangani seluruh luasan usaha tani yang dimiliki oleh sekitar 35 petani dalam hamparan 25 ha,” terangnya. Ia juga menjelaskan bahwa secara teknis kegiatan penyuluhan bukanlah sekadar aktivitas membimbing para petani, melainkan mahasiswa tinggal, hidup, dan bekerja bersama mereka. Dari segi teknologi pertanian, Moch. Ismachin (2017: 269-70), mahasiswa IPB tim Pilot Proyek lainnya, menyebutkan bahwa benih padi yang digunakan selama kegiatan adalah jenis unggul baru dari Balai Penelitian Pertanian Bogor. Selain itu, ia juga merinci tentang varietas benih, pupuk, dan pengendali hama yang digunakan selama Pilot Proyek. “Benih yang ditanam adalah varietas Sintha, Dewi Tara, Remaja, Si Gadis, Dara dan Jelita; pupuk yang digunakan adalah pupuk ZA, KCl, dan DS; serta insektisida Endrin dan rodentisida zinkfosfit digunakan sebagai pengendali hama,” rincinya. Berkat upaya ini, lahan Pilot Proyek mampu meraih 40% hingga 145% hasil panen lebih tinggi dibandingkan lahan sawah lain di tiga desa yang sama (Rieffel 1969: 107).

Kesuksesan Pilot Proyek kemudian diikuti dengan usaha perluasan program penyuluhan pertanian tersebut. Pada September 1964, LKPM PTIP dan Departemen Pertanian memutuskan Pilot Proyek diubah menjadi Demonstrasi Massal Swa-Sembada Bahan Makanan (Demas SSBM) berdasarkan usul kertas kerja Ir. Djatijanto. Dalam program penyuluhan baru ini, luas area lahan dan sebaran daerah yang disasar begitu ambisius. Demas SSBM menyasar “areal sawah seluas 11,066 ha dalam 204 unit di Jawa dan luar Jawa,” sebut Syafrida Manuwoto dan Soekarja Somadikarta (2017: 155). Konsekuensi dari hal ini adalah membeludaknya lembaga yang terlibat. Seperti dicatat Alexis Rieffel, ekonom asal Amerika Serikat, selain IPB, LKPM PTIP, dan Departemen Pertanian, berbagai fakultas pertanian dan departemen-departemen pemerintah juga turut ikut. Dalam catatan Rieffel (1969: 109), beberapa di antaranya meliputi delapan fakultas pertanian berbagai kampus, Direktorat Pertanian Rakyat (Dirtara), Bank Koperasi Tani dan Nelayan (BKTN), Dinas Pertanian Rakyat (Diperta) berbagai daerah, dan P. N. Pertanian.

Penyuluhan pertanian
Gambar 2. Demas SSBM di Bima, Nusa Tenggara Barat. Mahasiswa IPB Moch. Ismachin, duduk paling kanan, dengan para petani berbincang tentang Demas SSBM di pematang sawah (Sumber: Manuwoto, Somadikarta 2017: 156)

Demas SSBM diadakan pada musim tanam 1964/65. Sekitar 400 mahasiswa dari IPB plus berbagai kampus lain turun ke lahan persawahan, seperti disebut Achmad Saubari (2017: 263). Ia juga menerangkan bahwa penyuluhan yang dilakukan para mahasiswa tersebut berlangsung selama enam bulan sejak proses pengolahan tanah hingga panen. Adapun dalam tanggung jawab, setiap dua orang mahasiswa menangani unit seluas 50 ha. Pada pelaksanaan Demas SSBM di Karawang, yaitu di lahan persawahan yang digunakan dalam Pilot Proyek, hasil panen menunjukkan kenaikan dari program sebelumnya. “Peningkatan hasil panen dalam program Demas SSBM melebihi yang telah dicapai Pilot Proyek: hasil panen rata-rata untuk lahan Demas SSBM adalah 7 ton batang padi kering per hektar dibandingkan dengan 3 ton untuk lahan non-Demas,” jelas Rieffel (1969: 112).

Pada Juli 1965, kepemimpinan Demas SSBM diambil alih oleh Komando Tertinggi Operasi Ekonomi (KOTOE). Peralihan kepemimpinan tersebut pada gilirannya kembali menimbulkan perubahan dalam pelaksanaan program penyuluhan pertanian ini. Hal itu terjadi melalui hasil putusan rapat KOTOE bersama lembaga-lembaga terkait bulan Agustus yang mengubah nama Demas SSBM menjadi Bimbingan Massal SSBM (Bimas SSBM) (Manuwoto, Somadikarta 2017: 156). Nama program yang kembali berubah dengan sendirinya juga diiringi dengan perluasan target sasaran penyuluhan. Berdasarkan keterangan Achmad Saubari (2017: 263), Bimas SSBM menyasar 150,000 ha area sawah dalam 3,000 unit. Program baru ini dilaksanakan selama musim tanam 1965/66 dengan melibatkan 1,500 mahasiswa dari IPB dan berbagai kampus lain. Sayangnya, peningkatan hasil panen Bimas SSBM tidak begitu impresif seperti pada program sebelumnya meskipun perbandingan dengan hasil panen lahan non-Bimas tetap menunjukkan jumlah lebih besar. “Peningkatan hasil panennya mengecewakan, namun demikian: 5,5 ton per hektar hasil panen dalam program Bimas SSBM [tetap lebih tinggi] dibandingkan dengan 3 ton per hektar di luar lahan Bimas,” sebut Rieffel (1969: 115-16).

Selama musim tanam tahun-tahun berikutnya, IPB terus berpartisipasi di dalam Bimas SSBM. Adapun pada dua musim tanam 1966 (kering) dan 1966/67, hasil panen Bimas SSBM menunjukkan peningkatan tajam dari yang sebelumnya dengan masing-masing adalah sejumlah 45,30 ton dan 48,93 ton (Mears, Afiff 1968: 30). Howard Beers, sosiolog Universitas Kentucky, mengungkapkan bahwa partisipasi IPB di dalam kemajuan program Bimas SSBM tersebut adalah bukti dari peran penting kampus ini pada perkembangan pertanian Indonesia. “Pengaruh IPB terhadap perkembangan pertanian Indonesia terlihat jelas dari partisipasinya dalam upaya nasional untuk meningkatkan produksi pangan, terutama melalui prosedur Bimas yang sangat dihormati,” ungkap Beers (1971: 249).

Berkat gagasan Ir. Djatijanto, IPB memelopori upaya peningkatan produksi padi demi ketersediaan pangan beras Indonesia melalui program penyuluhan pertanian selama dasawarsa 1960-an. Diawali dalam bentuk Pilot Proyek, penyuluhan ini bermuara menjadi program Bimas SSBM. Penyuluhan pertanian ini telah membawa mahasiswa turun ke bawah bekerja bersama petani di ladang-ladang persawahan. Dengan kontribusi ini, IPB dengan demikian berperan dalam membangun “jembatan antara dunia para ilmuwan pertanian dengan desa-desa rural,” mengutip E. A. Roekasah dan D. H. Penny (1967: 68). Dalam pandangan sejarawan Universitas Gadjah Mada (UGM) Agus Suwignyo (2019: 407), hal tersebut secara sekaligus juga menunjukkan bahwa IPB telah turut membentuk unsur persatuan di antara warga negara Indonesia, jika meninjaunya dari segi filosofi gotong royong kehidupan berbangsa kita.

Referensi

Beers, Howard W. 1971. An American Experience in Indonesia: The University of Kentucky Affiliation with the Agricultural University of Bogor. Lexington: The University Press of Kentucky.

Ismachin, Moch. 2017. “Pilot Proyek Panca Usaha di Karawang (Action Research sebagai Pelaksanaan Darma Ke-3 Perguruan Tinggi: Pengabdian).” Dalam Syafrida Manuwoto, Soekarja Somadikarta, Sejarah Kelahiran Institut Pertanian Bogor: Lembaga Pendidikan Tinggi Ilmu-ilmu Pertanian Tertua di Indonesia. Bogor: IPB Press, hlm. 268-75.

Manuwoto, Syafrida, Soekarja Somadikarta. 2017. Sejarah Kelahiran Institut Pertanian Bogor: Lembaga Pendidikan Tinggi Ilmu-ilmu Pertanian Tertua di Indonesia. Bogor: IPB Press.

Mears, Leon A., Saleh Afiff. 1968. “A New Look at the Bimas Program and Rice Production.” Bulletin of Indonesian Economic Studies, Vol. 4, No. 10, hlm. 29-47.

Rieffel, Alexis. 1969. “The Bimas Program for Self-Sufficiency in Rice Production.” Indonesia, No. 8, hlm. 103-33.

Roekasah, E. A., D. H. Penny. 1967. “Bimas: A New Approach to Agricultural Extension in Indonesia.” Bulletin of Indonesian Economic Studies, Vol. 3, No. 7, hlm. 60-9.

Saubari, Achmad. 2017. “Prof Dr Ir Toyib Hadiwijaya Penggagas dan Pendiri IPB.” Dalam Syafrida Manuwoto, Soekarja Somadikarta, Sejarah Kelahiran Institut Pertanian Bogor: Lembaga Pendidikan Tinggi Ilmu-ilmu Pertanian Tertua di Indonesia. Bogor: IPB Press, hlm. 258-67.

Suwignyo, Agus. 2019. “Gotong Royong as Social Citizenship in Indonesia, 1940s to 1990s.” Journal of Southeast Asian Studies, Vol. 50, No. 3, hlm. 387-408.

Rahman C. Adiatma, Staf edukator Museum dan Galeri IPB Future