Dekolonialisasi IPB: Meniti Identitas Pendidikan Tinggi (Bagian-4)
Dekolonialisasi IPB: Meniti Identitas Pendidikan Tinggi (Bagian-4)
Lanjutan dari bagian 3.
Berlangsungnya perubahan, sebagai hal yang mengiringi transformasi Universitas Indonesia (UI) di Bogor menjadi Institut Pertanian Bogor (IPB), terjadi karena komitmen para civitas kampus ini. Namun, faktor lain yang juga mesti diperhatikan ialah adanya eksistensi agensi di luar IPB yang turut hadir di Bogor selama 1957 hingga 1966, yaitu sebuah tim dari University of Kentucky (Kentucky Contract Team, KCT). Kehadiran tim dari kampus yang bertempat di Kota Lexington, Amerika Serikat tersebut adalah dalam rangka kerja sama “pengembangan serta perluasan pelatihan, pengajaran, penelitian, dan aspek-aspek pengabdian masyarakat dari pendidikan” di Bogor (Mooney Jr. 1963: 94). Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan (PTIP), Prof. Dr. Ir. Toyib Hadiwidjaja, menjadi figur penting yang memainkan peran dalam tonggak ini. Sebagai Menteri PTIP, Profesor Toyib telah mendorong kerjasama dengan KCT dan meratifikasi transformasi UI di Bogor menjadi IPB pada 1963.

Salah satu tengara kemunculan kecenderungan pendidikan yang interdisipliner dan berorientasi perubahan sosial di IPB, seperti telah disinggung pada bagian sebelumnya, ialah musabab eksistensi KCT sebagai pembaharu. Di IPB dan pendahulunya yaitu UI di Bogor, mereka membawa suatu tradisi akademik yang berbeda dengan model Belanda sebelumnya, yaitu mazhab Anglo-Amerika. Jika pendidikan tinggi kolonial menerapkan suatu sistem Studi Bebas, maka IPB dan UI di Bogor berjalan menggunakan sistem baru yang dikenal sebagai “Studi Terpimpin”. Sedikit-banyak, hal ini dapat terjadi berkat naiknya tradisi baru yang diperkenalkan KCT tersebut. Howard Beers (1971: 80) mencatat bahwa:
“Para tenaga pendidik KCT, yang teguh menolak sistem Belanda, yakin bahwa teknik mengajar mereka lebih baik. Hal ini berkembang di bawah pengaruh preferensi [akademik] Amerika akan kebaruan dan perubahan, pengaruh penelitian dalam psikologi pendidikan, dan urgensi untuk memanfaatkan pengetahuan secara praktis. [Jika dibandingkan] secara sederhana, tujuan pendidikan Belanda adalah menghafal pengetahuan faktual; [sedangkan] tujuan pendidikan Amerika adalah untuk mengembangkan keterampilan guna dapat menerapkan pengetahuan untuk pemecahan masalah.”
Beers (1971: 81-83, 88, 93, 98-99, 159) juga menguraikan secara ekstensif hal-hal yang kemudian timbul dari adanya pembaharuan sistem berkat tradisi yang diperkenalkan KCT di atas. Yang paling mendasar, penyelenggaraan pendidikan menggunakan mekanisme semester diperkenalkan. Pemberlakuan mekanisme ini ditujukan untuk dapat lebih memberikan struktur dalam pendidikan, khususnya mengatur formasi mata kuliah. Aransemen jadwal akademik juga menjadi lebih jelas. Waktu spesifik kapan dimulai dan berakhirnya periode pendidikan hingga jadwal ujian akhirnya terpetakan. Mekanisme semester ini merupakan sebuah kebalikan total dari sistem model Belanda sebelumnya yang kurang memiliki struktur dan panduan dalam menyelenggarakan pendidikan tinggi.
Selain itu, metode pembelajaran baru yang mengarahkan mahasiswa untuk lebih aktif juga menjadi berkembang di IPB dan UI di Bogor. Para tenaga pendidik KCT berupaya mengubah metode sebelumnya yang bersifat sebagai rangkaian kuliah ceramah dosen di kelas. Tentu saja ceramah kelas tetap terjadi, namun porsi terbesar dari kuliah diberikan pada aktivitas yang harus dilakukan mahasiswa. Di antara aktivitas tersebut meliputi latihan laboratorium, studi kepustakaan mandiri yang kemudian harus dilaporkan, kerja, serta kunjungan lapangan dan diskusi di kelas.
Mekanisme pemberian nilai dan ujian bagi mahasiswa merupakan hal lain dari pembaharuan yang ada. IPB dan UI di Bogor memberlakukan prosedur yang lebih efektif dibandingkan cara Belanda yang tidak efisien. Nilai tidak lagi ditentukan hanya oleh ujian akhir secara lisan seperti model Belanda, di mana kebanyakan mahasiswa tidak lulus pada percobaan pertamanya sehingga harus mengulang ujian berkali-kali. Nilai akhir mahasiswa pada gilirannya ditentukan dari gabungan skor kuis, persentase kehadiran di kelas, laporan laboratorium, dan makalah, selain nilai pada ujian akhir tertulis itu sendiri. Jika ternyata mahasiswa tidak dapat memenuhi standar nilai minimum untuk dapat lulus pada mata kuliah tertentu, mahasiswa harus mengulang kelas sebelum bisa mengikuti ujian akhir kembali. Perlu dicatat bahwa proses pemberian nilai bagi mahasiswa ini bersifat transparan. “Nilai, yang sebelumnya disembunyikan, kini dibuka kepada mahasiswa agar mereka mengetahui tingkat kemajuan dirinya,” ungkap Beers.
***
Setiap zaman memiliki zeitgeist (jiwa zaman)-nya masing-masing. IPB lahir dari sebuah jiwa zaman untuk dapat mendekolonialisasi, dalam kata lain “memerdekakan,” pendidikan tinggi Indonesia dari legasi kolonial sebelumnya. Namun, kita harus memahami bahwa dekolonialisasi ini juga berarti pembaharuan, seperti telah diuraikan dalam artikel bersambung ini. Dekolonialisasi sebagai jiwa zaman memang merupakan kenyataan masa lalu Indonesia dekade 1940-an hingga 1960-an. Akan tetapi, arti semangat pembaharuan dari jiwa itu tetap relevan di setiap zaman, termasuk hari ini dan masa depan. Demikian, IPB akan terus berdiri bersama semangat pembaharuan, salah satunya dengan berkomitmen untuk dapat menginspirasi kelahiran inovasi-inovasi di negeri ini.
Referensi
Beers, Howard W. An American Experience in Indonesia: The University of Kentucky Affiliation with the Agricultural University of Bogor. Lexington: The University Press of Kentucky, 1971.
Mooney Jr., Francis Eugene. “United States–Indonesian Co-operation in Higher Education: 1950-1961.” The Journal of Higher Education, Vol. 34, No. 2 (February 1963), pp. 94-96.
Rahman C. Adiatma, Staf edukator Museum dan Galeri IPB Future